Majelis Hasbunallah Indonesia

  • Beranda
  • Khazanah
    • Peristiwa
    • Viral Dunia
    • Cerita Bahtera
    • Ada Ada Saja
      • Menuai Badai
      • Sandi Alam
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Mlaku Mlaku
  • Mutiara Hikmah
  • Contact Us
Diberdayakan oleh Blogger.
Buka bersama Puasa Ramadhan komunitas alumni Stikosa/AWS di Jakarta, Kamis (8/6/2017)
SEMUA wartawan tidak pernah lupa, unsur daya penarik pesona manusiawi dalam penyampaian informasi, merupakan satu sisi minat terhadap sebuah topik pemberitaan. Karenanya, dalam ilmu jurnalisme, disebut sebagai the human interest story.

Wartawan dan sastrawan, Ernest Hemingway dalam bukunya ‘Old News Man Writer’ (1934) menulis: Write about you know and write truly. Write about people you know that you love and hate, not about people you study about.

Tulislah tentang apa yang kau ketahui dan tulis dengan sejujurnya. Tulislah tentang orang-orang yang kau kenali, yang kau cintai dan kau benci, bukannya tentang orang-orang yang kau pelajari.

Maksudnya, menulis apa adanya dari sisi realitas kemanusiaannya, bukan dari sudut aspek kehidupan yang melalui suatu pengamatan atau penelitian.

Buka Bersama
Hari Kamis, 8 Juni 2017 lalu, alumni AWS yang tergabung dalam WhatsApp Group (WAG) “Keluarga AWS/Stikosa” menyelenggarakan buka bersama Puasa Ramadhan 1438 H di Jakarta. Hampir setiap tahun mereka mengadakan buka bersama. Paling sering diadakan di Aula Lembaga Pers Dr. Soetomo, Komplek Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih, Jakarta. Sekarang ke Jl. Prapanca, Jakarta, rumah salah seorang alumni, Dien Irhastini.

Cerita-cerita termasuk foto “bukber” alias buka bersama sejak sore sudah dikirim melalui WAG. Orang-orang yang berada di “Keluarga AWS/Stikosa” itu kreatif, bahkan terkadang agak jahil. Namun kreativitas sejumlah penghuni WAG tersebut sebenarnya menunjukkan aktualitas berbagai fenomena saat ini.

Sebuah foto bajaj warna biru muncul. Penumpangnya dua orang, Jacky Kussoy (aktivis media) dan Achmad Subechi (Pemimpin Redaksi Koran Warta Kota). Jacky menulis kaption,

“Foto di atas bukan sekadar untuk mejeng. Namun inilah pilihan kami berkendara menuju kediaman Mbak Dien (TKP), baku temu dengan konco-konco lawas di bulan suci Ramadhan. Buka bersama bersama. Cak Bechi datang untuk pertama kali, begitu juga Mbak Tri, tuan rumah dan konco lawasku, Mbak Iit. Makasih semuanya yg sudah gabung dan memberi atensi dari jauh. Gbu all…”.

Sensasi naik Bajaj menuju TKP
Bechi yang dimaksud nimbrung, “Mantap! Jacky edan. Enggak sabar menunggu taksi aku diajak naik metromini dari Palmerah menuju Blok M. Terus oper naik bajaj…”

Tak lama kemudian Hana Budiono (owner PT Agranet Multicitra Siberkom) menampilkan foto macam-macam kuliner menu utama buka bersama, nasi liwet, bakso, jajanan pembuka, dawet-cendol dan buah.

Dari Surabaya, Riamah Douliat wartawati yang menekuni bisnis majalah Nahdlatul Ulama “AULA”, ikutan nyeletuk, “Dari Surabaya cukup menikmati foto-foto dan laporannya aja. Sambil cleguk-cleguk. Senang ya…masakan Bu Dien enak-enak. Kita sudah puluhan tahun tidak bertemu. Jika ada umur panjang dan kesempatan, pasti ketemu. Semoga. Salam buat keluarga”

Dian Maria Andriana, wartawati dan redaktur senior LKBN Antara, komentar: “Iit Rufaida sama Jacky Kussoy berapa tahun nggak ketemu?. Pangsit gorengnya ayu…”

Sapto Anggoro (pendiri Binokular Media Monitoring), dari arena silaturahim menjawab: “Sejak lulus baru kali ini bertemu…”

Tak dapat dipungkiri bahwa silaturahim yang terjalin di era kemajuan teknologi, selalu menyisakan kebersamaan. Maklum, antara mereka ada yang sering bertemu, ada pula yang lama tak bersua. Dan, sekalipun acara sudah berakhir, sampai larut malam ungkapan demi ungkapan masih berlanjut.

Hana Budiono: “Alhamdulillah wa syukurilah….Semoga Allah ridho dengan silaturahim hari ini. Terimakasih teman-teman atas keakraban dan kebersamaan yang terjalin. Semoga langgeng. Aaamiin YRA.”

Dewi S Tanti: “Mbak Hana, saya dan adik-adik barisan muda juga mengucapkan terimakasih banyak atas kebersamaan yang mbak dan Mbak Dien (tuan rumah) buat. Salam hormat kagum untuk semua, semoga semua tetap sehat, selamat sukses dan berkah…”

Tri Setyowati Dyah (Kepala Sekolah, Karawang-Jawa Barat): “Makasih Bu Dien dan Bu Mufli yang telah memfasilitasi kami untuk temu kangen sambil bukber. Semoga tali silaturahim ini tetap terjalin sampai nanti. Aamiin…”

***

Atas dasar pemahaman Human Interest Story Ernest Hemingway itulah, maka setiap saat melihat kawan-kawan komunitas “Keluarga AWS/Stikosa” mengadakan pertemuan silaturahim, hampir pasti saya ikut menikmati. Baik secara fisik terlibat di dalamnya, maupun cukup membaca melalui pesan-pesan WAG. Salah satu kekuatan komunitas alumni ini adalah, sebagian besar masih aktif menjadi wartawan, sebagian lagi menjadi praktisi media seperti penulis lepas dan penulis buku. Kita berjumpa sebatas silaturahim, sebatas melepas kangen dengan cara “pul-kumpul” (Jawa: saling bertemu). Bukan dalam kapasitas reuni besar.

Jikalau ada yang bertanya, kenapa selalu ikut menikmati? Ya, karena komunitas ini merupakan kawan-kawan lama, sesama alumni Akademi Wartawan Surabaya. Berdasarkan pengalaman di kampus, kemudian berlanjut perjumpaan di medan liputan, lahirlah nilai-nilai kebersamaan.

Di dalamnya selalu ada informasi atau peristiwa yang bisa dijadikan topik berita-pesona-manusiawi. Langkah kawan-kawan senantiasa menginspirasi tindakan (baca: tulisan) positif. Saya kira itulah namanya virus kebaikan. Cara menularkan bisa dari mana saja. Kawan-kawan buka puasa bersama di Jakarta, sedangkan saya posisi di Surabaya. Maka menulis perihal silaturahim pun, bisa dari jarak jauh…!
(Dok. Pribadi)
Jangan abaikan kekuatan pikir Anda
D. Zawawi Imron, budayawan berjuluk Si Cerulit Emas Sabtu pagi (16/9/2017) berada di Stasiun Gambir, Jakarta. Ia tidak merasa cemas meskipun KA Argro Bromo Anggrek Pagi yang akan membawanya ke tujuan akhir Stasiun Pasarturi Surabaya terlambat masuk, hampir satu jam lamanya.

"Saya yakin kereta akan datang. Persoalannya adalah terlambat saja" ujar Zawawi saat menelepon saya sekira pukul 10.15 WIB. Suaranya tetap jernih, terlebih logat bahasa Madura-nya masih kental. Dia paling senang menggunakan frasa "saya yakin" dan "persoalannya adalah."

Dalam rentang satu bulan  -Agustus dan September 2017, setidaknya sudah tiga kali Zawawi pergi-pulang menggunakan jasa kereta api eksekutif ini. Di usia 72 tahun, Zawawi jika bepergian selalu ditemani oleh cucu keponakan atau anak asuhnya secara bergantian.

Saat memasuki stasiun Gambir, Zawawi bercerita kepada cucu keponakannya, bahwa dirinya punya santri seorang guru MAN di Sulawesi yang ahli bidang kurikulum. Tahun 2014 santri ini dipindah ke Jakarta menjadi seorang penatar kurikulum. Karirnya terus menanjak, bahkan saat ini menduduki salah satu Kasubdit (eselon 3) di Kementerian Agama RI.

Masih melaui telepon Zawawi cerita kepada saya, pembicaraan dengan cucunya baru berjalan satu menit, tiba-tiba ada seseorang datang dan menyalami Zawawi. Ternyata dia adalah DR Basnang Said, orang yang sedang dibicarakan. Sesuatu yang terjadi tidak jauh beda dengan yang ada dalam pikiran dan perasaan Zawawi.

"Subhanallah. Orang yang saya bicarakan dengan cucu tadi hendak tugas ke Purwokerto. Ini kekuatan pikiran bawah sadar." tutur penyair yang beken dengan puisi berjudul "Ibu" ini sangat antusias. Perjumpaan tanpa sengaja dengan santrinya -Basnang Said itu sengaja disampaikan melalui telepon, bukan tanpa alasan. Justru dia merespon pesan tertulis yang saya sampaikan sehari sebelumnya.

Hari Jumat pagi (15/9/2017) saya memang menulis pesan berantai secara terbatas, isinya sebagai berikut:

"Jika visi dan tujuan kita sebagai muslim di jalan cinta pejuang ini jelas, seluruh alam semesta yang bertasbih memuji Allah pasti akan membantu kita. Tapi jika tujuan kita kabur, maka yg diminta membantu pun jadi bingung. Bahkan yg sangat ingin membantu pun tak tahu; apa yg bisa dibantu, kapan harus membantu, dan bagaimana caranya membantu.

Contoh, "Besok, saya mau bangun pagi-pagi!" Pagi-pagi itu jam berapa? Maksudnya tidak jelas. Coba umumkan ingin bangun jam 03.30 WIB, maka weker akan disetel jam segitu. Se-isi rumah akan membangunkan jika tiba waktunya, sebab semuanya jelas.

Ucapkan, "Saya bangun jam 03.30!" beberapa kali menjelang tidur, insyaAllah Anda akan bangun tepat jam itu, meski tanpa weker. Jadi, bawah sadar kita pun bekerja jika semuanya spesifik dan jelas."

Ini sebuah risalah yang saya kutip dari buku karya Salim A. Fillah berjudul "Jalan Cinta Para Pejuang." Tulisan tersebut kemudian tersebar lewat WhatsApp dan aplikasi Catfiz mesenger.

Dukungan Semesta

Saya tidak sedang berceramah. Kapasitas sebagai pemberi dakwah tentu melekat pada para kiai, para alim dan ulama, para guru, serta para ustadz dan ustadzah. Posisi saya sekadar menyampaikan informasi. Sering saya mengutip pendapat para ahli, itupun dari mendengarkan wejangan. Paling banter sebatas mengutip sebuah buku.

Selain Zawawi Imron, masih banyak kawan mengalami hal serupa; ada kekuatan besar dibalik pikiran yang disadari atau tidak tembus menjadi kenyataan. Apa yang kita pikirkan, tentu bakal terjadi. Itulah pentingnya mengapa harus berfikir baik. Berpikir jernih. Berpikir optimis. Berpikir positif. Yang ada di hati Anda adalah sama dengan apa yang selalu Anda pikirkan.

Seperti dialami Zawawi Imron, saya pernah merasakan. Pada malam pergantian tahun 2014 menuju tahun 2015 saya melaksanakan umrah bersama istri. Setelah beberapa hari di Kota Madinah, tepat malam tahun baru adalah hari kami masuk kota Makah. Ketika keluar dari Masjidil Haram, setengah bercanda saya bilang kepada istri, "Di antara ribuan orang begini, mungkin nggak ya berjumpa dengan kawan?"

Anda tentu menebak, saya berjumpa orang yang saya kenal? Ya, benar! Hanya berjarak lima meter di depan, terdapat sosok yang cukup saya kenali. "Ustadz Azis!" tanpa sadar saya berteriak. Dia melihat sejenak. Setelah berucap lafal Subhanallah, dia ikutan larut sambil memeluk tubuh saya. Lewat pikiran, tembuslah angan-angan itu...

Ustadz H. Abdul Aziz, SE saya kenal sebagai dai sejak masih muda. Pada saat merintis usaha dia kerap belajar di percetakan milik suratkabar dimana saya bekerja. Dalam perjalanan waktu, dia punya usaha percetakan besar. Menjadi trainer Sholat Khusyu', penulis buku "Berhaji kepada Allah" sekaligus pembimbing haji dan umrah. Dia membina komunitas pelatihan manasik dengan jaringan cukup luas.

Setiap kami berjumpa, setiap saat itu pula saling melempar harapan, "Kapan ya, kita bareng ke tanah suci." Akhirnya angan-angan itu dikabulkan Allah. Bertemu ustadz -sekaligus teman ngobrol, di tanah suci.

Jangan diragukan lagi, ada kekuatan tersembunyi di balik keinginan-keinginan Anda. Kekuatan tersebut, atas kehendak Allah sewaktu-waktu muncul memenuhi "selera" Anda. Mulai sekarang, coba rasakan betapa kekuatan Allah SWT bekerja melalui pikiran. Entah berupa sebuah mimpi, sebuah pikiran positif, sebuah pemikiran baik, hingga pemikiran jahat sekalipun benar- benar akan menjadi kenyataan, karena seketika itu juga kekuatan Tuhan langsung bekerja dan alam semesta juga langsung datang memberi dukungan. Sebagaimana firman Allah: "Aku mengikuti sangkaan hambaKu padaKu..."

Sadarilah dan mulai berhati- hatilah dalam berpikir, karena meskipun sebuah pikiran itu sederhana, bisa menjadi nyata dan benar-benar terjadi. Jadi, ketika Anda memiliki sesuatu perasaan (positif atau negatif) terus menerus, artinya Anda sedang mengarahkan energi Anda ke sana. Energi tersebut berkumpul untuk akhirnya mewujudkan (menarik) sesuatu sesuai dengan fokus pikiran Anda.

Nah, Anda pasti pernah mengalaminya. Pernah, kan...?
 KM Nggapulu milik PT Pelni perbaikan di PT PAL Surabaya
PERNAH ada masa di mana anak didik sekolah dasar mendapat buku yang berisi pelajaran sejarah tentang keunggulan setiap daerah atau kota di tanah air. Kita sangat hafal, Kota Surabaya tercatat antara lain memiliki Kebun Binatang Surabaya, industri kapal PT DOK dan PT PAL.

Sangat terpateri dalam ingatan karena pelajaran itu sewaktu-waktu keluar menjadi soal setiap ulangan dan ujian sekolah. Secara fisik belum tentu anak-anak sekolah pernah singgah ke PT DOK atau PT PAL sebab untuk masuk izinnya sangat ketat. Murid sekolah lebih sering melihat Kebun Binatang Surabaya, lantaran lokasinya mudah dijangkau.

Kedua industri galangan kapal itu mempunyai sejarah sangat panjang. PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) perusahaan BUMN produksi kapal terbesar kedua setelah PT. PAL Surabaya (Persero), didirikan pada tanggal 22 September 1910 oleh Pemerintah kolonial Belanda. Setali tiga uang, berdirinya PT PAL Indonesia (Persero), bermula dari sebuah galangan kapal bernama Marine Establishment (ME) yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1939.

Seiring kecamuk perang sejak penjajahan Belanda hingga Jepang, serta kembalinya pendudukan Belanda pada masa perang kemerdekaan, maka masuk akal jika PT PAL berulangkali ganti baju. Pada tanggal 15 April 1980 status Perum resmi menjadi PT dengan nama PT PAL INDONESIA (PERSERO).

Sungguh sangat bersyukur dalam sebuah silaturahim keluarga kecil alumni Akademi Wartawan Surabaya, pada 22 Januari 2017 memiliki kesempatan bisa melihat kemegahan PT PAL. Tuan rumah pertemuan, Ahmad Soini (angkatan 1979 – mantan wartawan Suara Indonesia) salah seorang rekanan PT PAL, sehingga dengan aksesnya kami sempat berkeliling menikmati hembusan angin laut di bagian paling ujung utara Kota Surabaya.

Mula-mula kami berhenti melihat kapal “Nggapulu” milik PT Pelni yang sedang mengalami perbaikan. “Nggapulu” adalah nama sebuah gunung di Provinsi Papua. Sebagaimana diketahui PT Pelni selalu mengambil nama-nama gunung di seluruh nusantara, diabadikan menjadi nama kapal penumpang laut.

Rombongan kemudian bergeser ke galangan Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia.  Decak kagum para jurnalis senior menyaksikan kapal perang Perusak Kawal Rudal  KRI “I Gusti Ngurah Rai”. Kapal ini merupakan kapal canggih kelas frigate proyek kerjasama antara PT PAL dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda memenuhi pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Kapal Perang

Dari tempat satu menuju tempat lainnya, sebagian rekan yang sudah memasuki usia “kepala lima” bukan main senangnya. Sebagai jurnalis pastilah mereka pernah meliput acara  PT PAL. Tetapi itu sebatas memenuhi undangan Humas, dan sangat amat jarang tangannya dapat menyentuh bibir dermaga. Boleh dikata, seumur-umur baru kali ini mereka berkesempatan menyaksikan kapal hasil karya anak bangsa. Luar biasa, begitulah kira-kira….

Siang hari itu juga foto-foto kunjungan ke PT PAL menyebar di jagat media sosial milik kawan-kawan. Sebagai penulis Kompasiana sebenarnya punya keinginan segera menulis. Namun entah mengapa keinginan itu mendadak sirna, bahkan kalah update dengan tulisan terbaru, silaturahim di Hamzah Fansuri, Surabaya.

Ada perasaan aneh, sewaktu bulan Februari 2017 dan Maret 2017 kisah sukses PT PAL secara bertubi-tubi dirilis oleh berbagai media.

Galangan kapal selam PT PAL Indonesia di Surabaya, ditargetkan selesai akhir Februari 2017, dengan target siap digunakan untuk menyusun rangkaian dan sarana pembuatan kapal selam secara mandiri oleh Indonesia. Pembangunan infrastruktur kapal selam itu bertujuan memenuhi target pembuatan sebanyak 12 kapal selam yang dipesan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Keberadaan kapal selam baru ini akan menjadi dorongan besar bagi kemampuan perang bawah Angkatan Laut Indonesia. (Antara, 12 Februari 2017)

Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, menyempatkan diri mengunjungi PT PAL (Persero) di Surabaya, Jawa Timur. Luhut dalam kunjungannya ingin melihat langsung proses penyelesaian pembangunan kapal selam yang dikerjakan PT PAL, yang dipesan oleh kementerian pertahanan Republik Indonesia. “Kalau memang produk dalam negeri bisa bersaing, kenapa mesti pakai produk luar? Dan melihat hasil pengerjaan kapal selama ini, saya yakin PT PAL Indonesia akan mampu bikin kapal selam sendiri,” ucap Luhut di PT PAL (Kompas.com 21 Maret 2017).

PT PAL Indonesia (Persero) tengah menyelesaikan pesanan kapal perang kedua dari Filipina. Kapal perang jenis Strategic Sealift Vessel (SSV) rencananya akan dikirim ke Filipina pada April 2017 mendatang. Sebelumnya pada Mei 2016 lalu, PAL telah mengirimkan kapal SSV pertama ke Filipina dipimpin oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) di dok perkapalan PT PAL Indonesia, Tanjung Perak, Surabaya. Kedua kapal perang yang diproduksi PT PAL Indonesia memiliki nilai kontrak sebesar US$ 90 juta. Pengiriman kapal perang SSV kali pertama PT PAL dan Indonesia khususnya mengekspor alutsista (Detik.com  27 Maret 2017)


PT PAL Sedang Sial
Jumat malam (31/3/2017), hanya berselang tiga hari dari pemberitaan terakhir,  kita semua dikejutkan kabar  Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan operasi tangkap tangan tindakan korupsi terkait pembelian dua kapal perang buatan PT PAL oleh Pemerintah Filipina. Tatkala KPK menetapkan sejumlah petinggi PAL menjadi tersangka, suasana gerah terasa menyelimuti keluarga karyawan pabrik galangan kapal terbesar Indonesia itu. PT PAL sedang sial!

Sejarah akan mengulang dirinya seperti juga air mewujudkan dirinya kembali dalam rupa hujan. Dan, sejarah mengulang dirinya jika memiliki jalan untuk mengulang. Perilaku buruk manajemen PT PAL Indonesia seketika menjadi buah bibir. Ternyata sejak 2011, banyak kasus suap terjadi di perusahaan pelat merah tersebut. Badan Pemeriksa Keuangan pun kerap menyatakan adanya potensi kerugian negara dalam tubuh PT PAL.


dok. pribadi
Keengganan menulis pada waktu lalu ada hikmahnya. Sekarang, setelah kasus suap terkuak, gairah menulis kunjungan tigapuluh menit di PT PAL kembali hadir. Apalagi sesudah menyimak foto sebuah prasasti marmer yang terlihat mulai memudar. Ini tulisan istri BJ. Habibie (Presiden Indonesia ke-3):

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIM
DENGAN RAHMAT ALLAH SUBKHANU WA'TA ALA
BERSAMA INI KAMI RESMIKAN
DOK GALI 30.000 DWT DENGAN NAMA, SEMARANG

Surabaya, 22 Januari 1994

ttd
Hajjah dr. Ny. Hasri Ainun Habibie


Ndilalah, hari Sabtu 15 April 2017 PT PAL genap memasuki tahun ke 37. Dari sejak murid sekolah dasar sampai sekarang sudah menjadi alumni Stikosa/AWS kami tidak punya pilihan doa, selain harapan agar PT PAL selalu menjadi kekuatan terbaik bagi nusa dan bangsa. Kami memiliki cerita, walaupun cuma sepenggal. Cerita sepenggal dari PT PAL. Walaupun dirimu terganjal skandal jangan sampai terjungkal!

Hari Rabu tanggal 9 April 1997, rombongan Haji Plus Linda Jaya Surabaya berduka. Salah satu jamaahnya bernama Latief Pudjosakti pada pukul 20.15 waktu setempat, wafat karena komplikasi pernapasan. Almarhum dimakamkan di Ma'la, Makkah, hari Kamis, setelah sebelumnya disembahyangkan di Masjidil Haram usai sholat Subuh.

Dokter Kabat selaku petugas kesehatan kloter Linda Jaya bersama saya, atas nama wartawan Surya dua hari sebelumnya masih sempat bertemu Pak Latief dan istrinya keturunan Jepang, Kristin Yoko di kamar Hotel Hilton tempat mereka menginap. Oleh dokter kloter dia diberi wejangan agar sering-sering mengkonsumsi air atau buah apel supaya penyakit tenggorokan lekas pulih. Pak Latief abai, penyakit itu makin parah, lalu sempat tak sadarkan diri sampai akhirnya merenggut nyawanya.

Berita itu dibikin “stop pres” harian Surya. Sebelumnya sudah dua hari informasi soal Latief Pudjosakti menjadi bahan berita laporan perjalanan haji. Penanggungjawab redaksi menyetop mesin cetak, hanya supaya berita ini diketahui umum. Maka esok harinya berita duka ini menyebar.

Latief Pudjosakti Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Jawa Timur (Jatim) sedang mendapat sorotan. Saat itu ada dualisme kepemimpinan DPD PDI Jatim. Latief kepanjangan tangan PDI pimpinan Soerjadi, sementara kubu PDI DPD Jatim satunya diketuai Ir. Sutjipto dibawah pimpinan Megawati Soekarnoputri. Mantan bendahara DPD PDI Jawa Timur itu menjadi Ketua PDI Jawa Timur berdasarkan SK 043 dikeluarkan Megawati Soekarnoputri, menggantikan Latief Pudjosakti.

Kubu Latief yang 'berpihak' pada pemerintah Orde Baru menolak pengangkatan Sutjipto. Jadilah kepengurusan ganda DPD Jawa Timur. Sutjipto yang berlatar "pekerja intelektual" ini sesungguhnya orang berpengaruh dalam sukses PDI Jawa Timur antara lain menambah kursi pada Pemilu 1992. Latief Pudjosakti banyak disokong Gubernur Jawa Timur, saat itu dijabat H. Basofi Soedirman, sedangkan Ir. Sutjipto yang didukung akar rumput PDI, selalu diganjal. Maka wajar kemudian muncul istilah, Pak Tjip “dikuyo-kuyo” (teraniaya).

Situasi di Makkah makin ramai, karena seminggu lagi puncak ibadah Haji tiba. Kabar meninggalnya Pak Latief akhirnya memang cepat menyebar. Wartawan berbagai media baik dari Jakarta, dan Surabaya mulai berdatangan sekadar mencari informasi di Hotel Hilton tempat kloter Linda Jaya menginap. Tetapi tidak semuanya bisa mencari kamar Kristin Yoko alias Ny. Latief Pudjosakti, kecuali beberapa petugas Linda Jaya.

Dari Surabaya saya mendapat pesan agar memantau situasi, karena ada kabar Ir. Sutjipto, juga berangkat menunaikan ibadah haji. Saya membolak-balik daftar peserta haji dari Maktour dan Tiga Utama termasuk biro perjalanan haji lainnya, tidak ada tercantum nama Pak Tjip. Tanpa sadar, diam-diam saya berharap ada keajaiban, sosok Ir. Sutjipto segera muncul, mumpung wartawan lain sudah pada pergi.

Dan, keajaiban itu benar terjadi. Siang hari menjelang waktu sholat Ashar, dari jauh tampak Ir. Sutjipto menggandeng isterinya mencari tahu keberadaan kamar Ny. Latief. Setengah berteriak saya bilang, “ikuti saya pak!”.

Selama dalam perjalanan menuju kamar Ny. Kristin Yoko, dari mulut Pak Tjip banyak cerita tentang pribadi Latief Pudjosakti. Isterinya, Soedjamik pun seolah tak ingin kalah bicara. Lift hotel Hilton yang membawa kami menuju lantai 22 seakan-akan memberi kesempatan saya. Hampir tiap lantai lift berhenti, sehingga cerita sepasang suami isteri ini menjadi agak panjang dan punya banyak makna.

Pak Tjip dan Pak Latief memiliki kesamaan ideologi partai. Mereka sama-sama membangun partai. Sekalipun terjadi dualisme kepemimpinan PDI (belum menjadi PDIP) di Jawa Timur, masing-masing tidak harus berseteru. Meskipun disana-sini banyak demo dari masing-masing kubu, toh keduanya tetap enjoy. Bahkan pernah terjadi Latief Pudjosakti bentrok dengan aparat Kepolisian di Kota Malang, karena sebuah insiden, segera pula Soetjipto “pasang badan” mengupayakan agar Latieftidak ditahan.

Suatu hari Ny. Soedjamik (isteri Ir. Sutjipto) bersama Ny. Kristin Yoko pergi ke Pasar Atum, sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya. Di tengah perjalanan mereka terhadang aksi unjuk rasa ratusan massa. Ternyata itu orang-orang PDI dari kubu Sutjipto berdemo menghadapi kubunya Latief Pudjosakti. Anehnya, kedua kubu sangat hormat terhadap isteri para bos mereka. Malahan para demonstran ini memberikan jalan.

“Politik punya ring. Ibarat petarung tinju, semuanya harus berada di dalam ring. Di luar itu mereka tak pernah menyerang secara pribadi” tutur Jagad Hariseno, putra tertua Pak Tjip. Andaikata di luar ring masih saling menyerang, itu namanya sama dengan menghancurkan ring (partai) itu sendiri, lanjut Jagad.

Latief Pudjosakti lahir di Ponorogo 10 September 1950 dan Ir. Sutjipto kelahiran Trenggalek, 13 Agustus 1945 (meninggal di Surabaya pada 24 November 2011), merupakan kader tokoh partai berlambang banteng. Cara-cara berpolitik sangat santun, meniru apa yang dilakukan politikus para pendahulu dan pendiri bangsa ini. Mereka sudah memberi teladan baik, politik itu bisa “menang” atau “kalah”. Tetapi lebih dari itu masing-masing pihak harus punya rasa toleran serta ada ruang untuk kompromi.

Hubungan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden dengan Soekarno sebagai Presiden, sangat dinamis, bahkan kadang-kadang terjadi gejolak. Hatta adalah pengkritik paling tajam sekaligus sahabat. Pasangsurut hubungan Soekarno dengan Mohammad Hatta sangat dipengaruhi oleh konfigurasi politik pada saat itu. Bung Karno sekali tempo juga kurang harmonis dengan tokoh dari Nahdatul Ulama atau Muhammadiyah, tetapi sebatas di panggung politik. Selebihnya mereka suka bareng-bareng sarapan.

Jika para politikus saling menghormati, otomatis Bangsa ini terpandang dan disegani negara asing. Saya sudah merasakan kehormatan Bangsa ini dijunjung. Ketika jenazah Latief Pudjosakti berada di rumahsakit Tunzi (Makkah), tidak seorangpun diijinkan menjenguk, termasuk isteri almarhum. Pembimbing haji Prof.Dr. Reom Rowi dan petugas kesehatan dr. Yatna meyakinkan pihak rumahsakit, jika almarhum adalah tokoh politik dan figur ternama di Indonesia. Seketika itu kami boleh masuk. Bahkan saya boleh mengambil foto, dimana momen ini jarang terjadi.

Andaikata “hubungan” antara Pak Tjip dan Pak Latief diletakkan dalam prespektif situasi kekinian, lebih-lebih dalam koridor Pemilu Presiden 2014, sudah tentu urusan antar kubu calon presiden dan wakil presiden tak sampai berlarut-larut menjadi sengketa berkepanjangan. Kedewasaan politik dengan sendirinya bakal membungkam ambisi-ambisi kekuasaan.

Politik tidak harus dibawa mati, kecuali untuk dan atas nama Bangsa Indonesia.


Postingan Lama Beranda

Postingan Populer

  • Sunda Kiwari TV, Wajah Baru Sapa Langit Biru
    (Foto: Herru Soleh) Launching Brand Baru SKTV stasiun TV lokal pertama di Kota Bandung. Hari Jumat (8/9/2017) malam langit biru Kota Bandung...
  • Dampak Industri terparah, Akibat Corona
    Di tengah virus corona (Covid-19) yang semakin menyebar ini, ada beberapa sektor industri yang terdampak oleh wabah tersebut. Bagaimana tida...
  • Mengapa Perlu Pasar Bebas?
    IAF Seminar "Promoting Entrepreneurship and Open Markets", 12 - 24 Agustus 2018 Message 04.10.2018 Nurkholisoh Ibnu Aman* Pesert...
  • Butuh Stamina Luar Biasa
    Dome of The Rock atau Kubah Mas salah satu masjid di Al Aqsa sore hari (Foto:ABH) Hawa dingin menusuk tulang. Suhu udara berada pada kisara...

Categories

Analisis 1 Berita 4 Cerpen 1 Ekonomi 4 Euforia 2 Gaya hidup 6 Humaniora 17 iTekno 1 Jalan Sore 5 Khazanah 5 Lite News 3 Manaya TV 1 Nusantara 31 Palestina 4 Sosok 9 Turki 2 Umroh & Haji 7 Umum 1

Follow Us

ABOUT AUTHOR

Ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan Arrisalah. Sesekali chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!. ;)

Album Flicker

About Me

Advertisement

Copyright © 2016 Majelis Hasbunallah Indonesia. Created by OddThemes