Majelis Hasbunallah Indonesia

  • Beranda
  • Khazanah
    • Peristiwa
    • Viral Dunia
    • Cerita Bahtera
    • Ada Ada Saja
      • Menuai Badai
      • Sandi Alam
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Mlaku Mlaku
  • Mutiara Hikmah
  • Contact Us
Diberdayakan oleh Blogger.
Dome of The Rock atau Kubah Mas salah satu masjid di Al Aqsa sore hari (Foto:ABH)



Hawa dingin menusuk tulang. Suhu udara berada pada kisaran angka 13 derajat. Jamaah ManayaIndonesia tiba di kawasan Kota Lama Jerusalem Timur. Dari balik jaket dan sweater terpancar wajah ceria, memupus rasa lelah perjalanan jauh sejak pagi hari melintasi perbatasan Mesir-Palestina.

Tepat pukul 19.07 waktu setempat bis pengantar berhenti di samping tembok yang mengelilingi komplek Masjidil Aqso. Dari kejauhan suara adzan sholat isyak telah berkumandang.

Pemandu perjalanan bernama Iyyat, meminta agar kami meninggalkan seluruh barang bawaan di dalam bis. "Ayo, ayo agak cepat supaya kita bisa ikut sholat isyak berjamaah di masjid Aqsa" katanya. Bahasa indonesianya kaku sehingga terkesan lucu.

Menuju pintu gerbang yang menyerupai terowongan harus menginjak jalan berbatu, lebarnya sekitar 4 meter. Ternyata seluruh jalan di kota tua ini semuanya masih berupa batu. Begitu pula dinding bangunan seluruh rumah di perkampungan menuju masjid terbuat dari batu.

Saya membayangkan kondisi masjid Aqsa seperti Mekah atau Madinah yang terang benderang, selalu ramai dikunjungi orang, dan mudah dijangkau. Sewaktu melaksanakan umrah di Masjidil Haram hanya berjalan beberapa langkah sudah bisa langsung melihat Ka'bah. Melalui jendela Hotel Al-Safwa Towers tempat menginap bisa mengintai aktivitas orang thawaf.

Begitu pula ketika memasuki wilayah Madinah turun dari bis kaki sudah berada di pelataran Masjid Nabawi. Setiap saat jamaah ingin beribadah -pagi-siang-malam, nyaris tidak pernah ada hambatan. Mirage Hotel yang disewa travel haji-umrah Manaya Indonesia tidak jauh dari gate 7 atau sejajar dengan pintu masuk utama Masjid Nabawi sisi utara.

Peninggalan Kuno

Lorong menuju komplek Al Aqsa terlampaui sangat sepi dan gelap. Situasi ini paling-paling cuma perasaan saya. Mungkin saja pengaruh dari larangan sepihak tentara Israel yang tidak mengizinkan pria Palestina berusia di bawah 50 tahun memasuki komplek masjid Al-Aqsa. Larangan itu terjadi bulan Juli 2017 silam.

dokumentasi pribadi

Bagi jamaah yang belum terbiasa mengunjungi Al Aqsa bisa agak kaget. Dari jalan raya menuju masjid utama diperlukan waktu 15 sampai 20 menit. Itu kalau tempo ayunan langkahnya biasa-biasa saja.

Selain berbatu hampir semua jalan menuju masjid senantiasa naik dan turun. Kondisinya cenderung licin, karena terbuat dari batu sudah sangat kuno. Pada saat naik ada kalanya melewati pijakan tangga, tiga sampai empat trap. Setelah itu lurus lagi tapi tetap menanjak. Pergi ke Al Aqsa perlu stamina luar biasa.

Saya dan istri kalah dibanding dengan jamaah lain. Usia mereka umumnya masih muda sehingga bisa berjalan cepat. Muhammad Iqbal (20th), jamaah termuda berada di depan kami. Dia selalu melihat ke depan kalau rombongan belok, Iqbal memberi komando kami agar ikut belok kanan, ke kiri atau lurus.

Lantaran seluruh bawaan ditinggal di bis istri saya terpaksa melipat sajadah ke dalam ketiak sebelah kiri. Kedua telapak tangannya sesekali dikepalkan untuk menghalau udara dingin. Tak lama kemudian Masjid "Kubah Mas" sudah kelihatan.

Masjid "Kubah Mas" ini biasa disebut Dome of The Rock termasuk satu diantara empat masjid di wilayah Aqsa. Kebetulan masjid "Kubah Mas" paling dekat dengan langkah kami. Tetapi meskipun sudah tampak masih limapuluh meter lagi baru bisa dicapai. Halamannya sangat luas.

Persis di depan pos penjagaan, seorang tentara Israel keluar dari sarangnya. Tentara gendut ini menghadang istri saya sambil bicara dengan bahasa yang sulit dimengerti. Sejenak ia menunjuk arah sajadah.

Dilihat sepintas sajadah di ketiak itu membentuk bulatan menonjol. Mungkin dikiranya benda yang membahayakan. Tentara itu segera memberi contoh, tangannya dikibas-kibaskan. Maksudnya kalau membawa sajadah harus dibuka lebar. Oalaaaa....baru ngeh!

Pintu masuk jamaah putri dibedakan dengan jamaah pria. seperti halnya masjid di tanah air. Posisi antara pria dan wanita tidak jauh beda. Wanita berada di sof belakang, hanya diberi dinding pembatas yang transparan. Petugas masjid sangat ketat menjaga jamaah, jangan sampai salah masuk pintu.

dokumentasi pribadi
Entah sudah merupakan kebiasaan sehari-hari atau lantaran situasi politik. Petugas masjid juga kurang memberi toleransi pada pendatang baru. Selesai sholat --waktu itu isyak, ya sudah gak boleh terlalu lama. Mereka bahkan setengah mengusir jamaah. Pintu masjid segera ditutup. Penduduk setempat yang sholat berjamaah tidak terlihat berkeliaran. Sepertinya mereka langsung pulang.

Usai sholat rombongan sudah berkumpul di luar masjid. Muhammad Rudiansyah, kawan saya lulusan fakultas sipil ITS dan penghobi sepeda mengajak saya bergantian foto. Hasil foto ini saya kirim ke Radio Suara Surabaya untuk disiarkan. Sejak berada di Mekah saya rajin menyampaikan foto untuk disiarkan.

Senin 5 Maret 2018 menjadi malam pertama berada di Bumi Palestina. Malam pertama kami sholat di salah satu masjid yang berada di komplek Al Aqsa. Sebagian rombongan berangkulan. Saling peluk. Alhamdulillah!

Sambil berjalan menuju hotel, Iyyat sang pemandu menunjuk sebuah lorong bernama "Herodes Gate". Besok pagi kalau akan sholat subuh di masjid utama, kata Iyyat, lewat pintu tersebut. Dari hotel cuma berjarak 30 meter. Golden Wall Hotel tempat menginap jamaah Manaya Indonesia terbilang strategis. Menghadap tembok yang mengelilingi komplek Al Aqsa.
(Republika.co.id)
Petugas lapangan memasang rambu 'Kedutaan AS di jalanan Yerusalem.

Anadolu Agency -disingkat AA, kantor berita international berkantor pusat di Ankara, Turki, Selasa (8/5/2018) sekitar pukul 07.05 wib melansir berita: Penunjuk jalan 'Kedutaan AS' muncul di jalanan Yerusalem.

Pihak berwenang Israel pada hari Senin, 7 Mei mulai menempatkan papan penunjuk jalan bertuliskan kata-kata "Kedutaan Besar AS" di beberapa ruas jalanan Yerusalem di tengah persiapan pembukaan kantor diplomatik AS yang baru pada pekan depan, menurut saksi mata.

Tanda-tanda jalan yang dicetak dalam bahasa Ibrani, Arab, dan Inggris itu terlihat di sekitar kawasan Arona. Upacara peresmian kedutaan baru, yang akan dihadiri oleh pejabat tinggi AS dan Israel, diperkirakan akan digelar pekan depan.

Gedung konsulat AS di Yerusalem yang sudah ada akan dialihfungsikan sebagai kedutaan, sementara sebuah gedung kedutaan baru bakal dibangun. Proses itu kemungkinan akan memakan waktu beberapa tahun. Pada Senin, Saeb Erekat, sekretaris jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mendesak agar diplomat-diplomat asing dan organisasi masyarakat sipil memboikot upacara peresmian pekan depan.

AS berencana secara resmi memindahkan kedutaan mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem pada tanggal 14 Mei, bertepatan dengan peringatan 70 tahun dibentuknya Israel pada tahun 1948 -sebuah acara yang oleh orang Palestina disebut sebagai "Nakba" atau "Hari Bencana".

Desember tahun lalu, Presiden AS Donald Trump memicu kecaman seluruh dunia ketika dia secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan berjanji akan memindahkan kedutaan AS ke kota itu.

Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Palestina-Israel, karena Palestina masih berharap Yerusalem Timur -yang diduduki oleh Israel sejak 1967- bisa menjadi ibu kota negara Palestina yang merdeka kelak.

Sepanjang siang dan malam harinya beberapa media Nasional Indonesia pun sudah meletakkan berita tersebut pada edisi online-nya. Republika.co.id bahkan menulis, setidaknya ada tiga rambu jalan Kedutaan besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel yang telah dipasang di Yerusalem.

Seorang saksi mengaku melihat para pekerja memasang tanda-tanda itu dalam tiga bahasa; Inggris, Ibrani dan Arab, yang berada dekat lokasi gedung konsulat AS di Yerusalem selatan. Kantor itu akan diubah menjadi kedutaan ketika resmi direlokasi dari Tel Aviv pada 14 Mei.

Sementara itu Sindonews.com melengkapi berita soal rambu dengan menulis, Paraguay akan memindahkan kedutaannya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem pada akhir Mei 2018. Paraguay jadi negara ketiga yang akan memindahkan kedutaan tersebut setelah Amerika Serikat (AS) dan Guatemala.

"Presiden Paraguay Horacio Cartes berencana untuk datang ke Israel pada akhir bulan guna membuka kedutaan di Yerusalem," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon dalam sebuah pernyataan, yang dikutip Reuters, Selasa (8/5/2018).

Cartes dijadwalkan melakukan perjalanan ke Israel untuk memindahkan kedutaan pada 21 Mei atau 22 Mei 2018.

#BebaskanBaitulMaqdis
Kabar tersebut meskipun sudah bisa diduga sebelumnya, tetap saja membuat saya kaget. Seruan boikot tidak kurang-kurangnya diserukan oleh berbagai pihak. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan keras menyindir masyarakat internasional yang ia anggap tak peduli terhadap penderitaan rakyat Palestina.

(Reuters)
Seorang warga dan seekor burung berada di antara 'rambu.
"Apa yang terjadi di Palestina, khususnya di Yerusalem, tidak lain adalah upaya tirani untuk membenarkan penindasannya, bahkan melembagakannya. Kekerasan yang ditimbulkan oleh Israel terhadap Palestina menunjukkan bahwa keberanian tirani meningkat setiap hari," kata Erdogan dalam pidato di International Mount of Olives Peace Awards, Istanbul baru-baru ini.

"Orang-orang Palestina adalah simbol dari semua orang yang tertindas di dunia karena penganiayaan, pembantaian dan ketidakadilan yang telah mereka alami," ujarnya.

Sejumlah besar anak-anak Palestina melanjutkan kehidupan mereka di luar tanah air mereka, di kamp-kamp pengungsi atau di negara lain. Sementara itu, mereka yang dapat tinggal di tanah airnya terkena diskriminasi psikologis dan fisik di mana-mana, dari saat mereka meninggalkan rumah, dalam perjalanan ke sekolah, di pos-pos pemeriksaan, di transportasi umum, hingga di lembaga pendidikan, papar Erdogan, seperti dikutip Hurriyet Daily News.

Bertempat di Monas Jakarta hari Jumat lusa (11/5/2018) direncanakan ada gerakan moral bertajuk "Seruan Internasional" #BebaskanBaitulMaqdis. Ketua Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis, Bachtiar Nasir mengatakan aksi tersebut sebagai upaya penolakan keputusan Presiden Donal Trump dan sekutunya yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Menurut Bachtiar, aksi tersebut tidak akan ditunggangi oleh politik praktis, yang kini hangat digaungkan sejumlah kelompok. Karena itu jika ada sejumlah orang yang memanfaatkan aksi itu untuk politik praktis akan ditindak tegas.

"Mengingat besarnya isu ini jika ada diantara peserta yang masih mempolitisasi aksi dengan mengenakan kaus-kaus yang berkonotasi politik praktis. Mohon maaf, panitia akan melakukan tindakan tegas," kata Bachtiar .

Memikul tekad dan niat, saya berdoa semoga bisa menghadiri...
(Dok Pribadi)
Bendera Indonesia dan Palestina mewarnai Aksi #BebaskanBaitulMaqdis.

Yerusalem, belumlah terlalu malam pada awal bulan Maret 2018. Saya tiba di salah satu kota di Palestina itu ketika penduduknya yang beragama Islam sedang memasuki kawasan Al Aqsa. Mereka berbondong-bondong hendak menunaikan shalat Isyak berjamaah di dalam masjid.Tidak pernah menduga bahwa akhirnya saya menginjakkan kaki di bumi Palestina, sebuah wilayah yang sering disebut-sebut sebagai Negeri Para Nabi. Tak pernah terbayangkan bahwa kota seluas 125 kilometer persegi itu akhirnya benar-benar kami singgahi.

Sekitar dua bulan lamanya sejak tanggal 9 Januari 2018 berniat ziarah ke Palestina, dalam benak dipenuhi angan-angan. Juliantono Hadi, Kepala Sekolah SMK Dr. Soetomo Surabaya sosok pemrakarsa keberangkatan sempat berharap, "Kalau diperkenankan kita bisa agak lama berada di Palestina, tidak cuma satu atau dua hari."

Doa beliau dikabulkan. Kami berempat --Juliantono Hadi, Ustadz Abdul Adzim Irsad, Humoris Djadigalajapo dan saya, akhirnya bisa menikmati udara Yerusalem dan beberapa kota lain di Palestina sekitar lima hari lamanya. Kami ini bagaikan mimpi.

Di muka bumi ini Yerusalem -ada yang menulis Jerusalem, adalah kota yang paling disucikan sekaligus diperebutkan. Ribuan tahun sejarahnya dipenuhi berbagai peristiwa. Yerusalem menimbulkan inspirasi jutaan manusia. Yerusalem juga mengandung peristiwa-peristiwa mengerikan.

Yerusalem dalam bahasa Arab disebut Ursalim Al Quds, tempat damai nan suci. Jejak para nabi terukir di Yerusalem. Mulai dari Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad. Bagi umat Yahudi, Yerusalem adalah tempat Nabi Daud mendirikan kerajaan Israel pada tahun 1000 sebelum Masehi setelah mengalahkan Goliath di Filistin yang sekarang dikenal sebagai Palestina.

Setelah Nabi Daud mangkat tahun 922 sebelum Masehi, kekuasaan diserahkan kepada anaknya Nabi Sulaiman. Di bawah kepemimpinan Nabi Sulaiman inilah dibangun sebuah tempat peribadatan yang dikenal oleh orang Yahudi dengan nama Bait Salomo atau Bait Sulaiman. Bait Sulaiman menurut Alkitab adalah bait suci pertama agama Yahudi kuno di Yerusalem.
(Dok Pribadi)
Panggung Utama tempat orasi para ulama.


Israel dilanda perang saudara, sepeninggal Nabi Sulaiman. Wilayah kerajaan terbelah menjadi dua; sebelah utara Israel dengan ibu kota Samaria dan bagian selatan Yehuda beribukota Yerusalem.Akibat perang itulah Bait Suci hanya tersisa tembok sebelah barat. Sisa-sisa reruntuhan itu merupakan bagian dari Bait Suci yang menjadi tempat peribadatan umat Yahudi dan dikenal sebagai 'Tembok Ratapan'.

300 meter sebelum 'Tembok Ratapan' diyakini sebagai tempat tinggal dan disalibnya Yesus. Di tempat ini terdapat sebuah jalan, di mana Yesus diarak setelah disiksa dan kemudian disalib. Jalan di mana Yesus diarak itu diberi nama Via Delorosa (Jalan Kesengsaraan) dan menjadi tempat bersejarah bagi umat Nasrani.

Pada bagian atas 'Tembok Ratapan', ada Masjid Al Aqsa, tempat bersejarah sekaligus kiblat pertama umat Islam. Masjidil Aqsa merupakan masjid suci umat Islam ketiga setelah Makkah dan Madinah. Di tempat inilah Nabi Muhammad melakukan Miraj dan mendapat perintah Shalat.

Karen Armstrong -mantan biarawati Katolik Roma menulis buku berjudul 'Yerusalem'. Buku yang diterbitkan pertama kali pada 1996, edisi perdana Bahasa Indonesia beredar bulan April 2018 dan dijual melalui pre-order. Karen tidak membantah bahwa kota yang dipenuhi oleh pergolakan spiritual dan politik itu menjadi kota suci bagi tiga agama: Islam, Yahudi dan Kristen.

"Situasi di Yerusalem tampak sangat serius dan sulit untuk mengetahui bagaimana konflik antara Israel dan Palestina dapat diselesaikan" tulisnya.
Apa yang dikhawatirkan Karen sungguh terjadi. Malapetaka sepertinya datang lagi. Eskalasi ketegangan antara Palestina dan AS meningkat sejak Oktober lalu, dan semakin dalam ketika Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Trump memerintahkan relokasi kedutaan AS di Tel Aviv ke Yerusalem pada tanggal 14 Mei 2018.
(Dok Pribadi)
Pedagang Kaki Lima menikmati
penjualan 'atribut' Palestina.
Hari-hari ini menjelang 14 Mei semua mata terbelalak melihat kekejaman tentara Israel menembaki warga sipil Palestina. Bahkan sejak 30 Maret 2018 konflik Palestina-Israel memanas oleh aksi demo di Jalur Gaza. Militer Israel menggunakan peluru tajam ketika berhadapan dengan para demonstran dalam jarak dekat.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, antara waktu 30 Maret 2018 dan 20 April 2018 penembak jitu Israel mengakibatkan setidaknya 45 warga terbunuh. Mereka adalah warga sipil tanpa senjata, termasuk dua wartawan yang mengenakan jaket bertanda 'PRESS'. Sementara itu lebih dari 6.700 lainnya terluka. Unjuk rasa itu akan terus berlangsung selama enam pekan, hingga 15 Mei 2018.

Kegigihan bangsa Palestina melawan pendudukan militer Israel memang patut diacungi jempol.

Indonesia dan Palestina
Monumen Nasional -Monas Jakarta, sepanjang Jumat (11/5/2018) berlangsung Aksi Indonesia Bebaskan Baitul Maqdis. Aksi sejumlah organisasi masyarakat -ormas-ini dilakukan sebagai rasa solidaritas dan bentuk penentangan sikap Amerika dan pendudukan Israel terhadap Palestina.
(Dok. Pribadi)
Jamaah Islamic Short Course.

Sejak dini hari para peserta, baik dari luar kota Jakarta atau seputar Jabodetabek memasuki kawasan Monas mengawali aktivitasnya dengan melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Beberapa komunitas relawan berbagai ormas membagikan makan pagi berupa nasi, kue, minuman kopi, dan teh. Mereka juga membuka Posko Kesehatan.

Dua panggung besar berdiri. Backdrop-nya bertuliskan #ALQUDSREDLINE dan AKSI INDONESIA BEBASKAN BAITUL MAQDIS. Pukul 06.00 WIB acara mulai berlangsung. Grup musik nasyid menyanyikan lagu dengan syair lagu diulang-ulang, "Kami bangsa Indonesia bersama rakyat Palestina, berjuang melawan Israel durjana untuk merdeka..."

Setelah itu pembacaan Surat Al-Kahfi dan Surat Al-Isra yang dibawakan oleh 1000 penghafal (hafidz) Al-Quran. Ribuan peserta aksi yang berada di bawah panggung mengikuti bacaan sambil membuka kitab atau dari gadget mereka. Para Ulama pendukung acara menyampaikan orasi serta membaca puisi.

Sebelum berakhir dengan kegiatan shalat Jumat berjamaah, Ustadz Bachtiar Nasir tampil heroik membakar semangat. Teriakan "Hidup Indonesia" dan "Bebaskan Baitul Maqdil dan Palestina" membara tiada henti. Peserta aksi, semuanya ikut larut dalam suasana hikmat.

Ya, masuk akal jika mereka larut dalam suasana. Perlu diingat, Palestina bukan sekadar negara. Palestina merupakan risalah sejarah penting. "Palestina adalah semacam dokumen tentang kebebasan berserikat. Contoh pluralisme keberagaman agama --Islam, Yahudi dan Kristen".

Bagi saya, ikut dalam aksi #BebaskanBaitulMaqdis seolah-olah merasa berada di Palestina.

Dokumentasi Pribadi
Penjaga di perbatasan Mesir sempat melempar senyum

Dokumentasi Pribadi
Perbatasan Mesir pukul 08:00
Ada banyak unsur kejutan menanti jamaah Manaya Indonesia saat mereka bergerak dari Mesir ke tujuan utama Al Aqsa di Palestina, Senin (4/3/2018) pagi. Saking dekatnya rombongan cukup berjalan kaki dari Hilton International Hotel menuju Taba Border, wilayah perbatasan yang indah berada di tepian pantai, Red Sea --Bahrul Ahmar (Laut Merah).

Pukul 08.00 waktu setempat jamaah Manaya Indonesia berjumlah 24 orang sudah menginjak tapal batas wilayah yang menyerupai bibir seorang gadis cantik. Berputar melingkar, meliuk tipis-tipis.

Antara serius dan tidak para penjaga di perbatasan Mesir sempat melempar senyum. Mohamed El Gendy, petugas travel yang ikut mengawal sejak dari Kairo melepas kami sampai di sini. Lelaki berpostur tinggi besar itu menyerahkan berkas peserta ziarah kepada Mukharam Khadafi --direktur  travel umrah dan haji Manaya Indonesia. Khadafi untuk sementara mengambil alih kendali rombongan.

Posisi kami berada di belakang rombongan Philipina yang juga punya maksud sama, akan memasuki wilayah Palestina. "Inilah bentuk toleransi. Kita menghormati non muslim, karena posisi mereka lebih dahulu datangnya" bisik Abdul Adzim Irsad, dosen Fakultas Sastra Arab Universitas Negeri Malang.

Petugas imigrasi sangat cermat mengamati setiap orang. Lewat Gate 1 seperti tidak ada masalah. Dari bilik kaca seorang pria berbaju putih memanggil pimpinan Manaya Indonesia.

Dalam bahasa inggris dia meminta setiap orang agar mengangkat paspornya sambil berjalan memasuki rintangan sebuah pintu dorong otomatis. Batin saya dalam hati, "Ah, gampang amat cuma angkat paspor".

Masuk Gate 2 mulai ketat. Petugas imigrasi Israel tidak hanya menggunakan mesin pemindai otomatis, tapi juga mengamati kami satu demi satu secara manual. Cara kerja pengamatan manual itu begini; ketika akan masuk X'ray ada satu orang imigrasi Israel melihat dan mengamati paspor seseorang.

Entah ilmu macam apa yang dimiliki petugas ini, karena hanya membandingkan antara foto paspor imigrasi dengan wajah asli secara kasat mata dia bisa "menghentikan" langkah si pemilik paspor. Paspor ditahan lalu pemilik paspor diberi secarik kertas warna merah atau putih. Saya tidak mengerti apa maksud dari kedua warna tersebut.

Saya melirik ada empat personal dari grup ManayaIndonesia yang mengalami masalah di Gate 2. Mereka adalah Mukharam Khadafi, Abdul Adzim Irsad, Ustaz H. Ahmad Muzakky Al Hafidz --Imam Masjid Al Akbar Surabaya, dan  Abdul Hakim peserta dari Bandung. Selain ditahan paspornya --untuk sementara, mereka harus mengikuti aturan setempat, yakni diinterogasi oleh orang yang pertama melakukan pemindaian secara manual tadi.

Hebatnya lagi, petugas pemindai tersebut tidak melempar kasus ini ke orang lain. Dia tangani sendiri pemeriksaan demi pemeriksaan terhadap empat sahabat saya itu sampai semuanya tuntas.

Beberapa sahabat yang sudah dinyatakan "clear" dari Gate 2 langsung masuk X'ray Gate 3. Lolos pemeriksaan Gate 3 masih harus antre di loket terakhir untuk melayani wawancara dari petugas perempuan.

Tiga loket, semuanya berisi petugas perempuan tanpa sedikit pun senyum. Sambil mencocokkan foto paspor, mereka bertanya; berapa lama rencana tinggal di Palestina, bersama siapa perginya, siapa nama bapak kandung, ibu kandung dan ditanyakan pula nama kakek....

Saya bersama beberapa peserta ziarah menunggu cukup lama di ruangan lain. Saya tidak mengerti apa yg terjadi terhadap empat sahabat di ruang interograsi. Suasana menegangkan...

Melelahkan Namun Menyenangkan
Kepala Sekolah SMK Dr. Soetomo Surabaya, Juliantono Hadi yang berada dalam satu rombongan bercerita, tahun 2015 dia masuk Palestina dari Jordania bersama Abdul Adzim Irsad. Ndilalah (baca: kebetulan) Abdul Adzim yang pernah kuliah di Ummul Qura University Mekkah itu mengalami nasib serupa; kejadian dicegat oleh petugas pemindai manual.

"Pak Adzim diperiksa empat jam lamanya" tutur Anton, panggilan akrab Juliantono Hadi. Pemeriksaan imigrasi Israel dari arah Mesir menurut Anton masih ringan. Dari Jordania agak berat karena ada sekitar enam lapis pemeriksaaan.

Saya punya pendapat, justru dengan pemindai manual ini pengamanan Israel patut diacungi jempol. Israel nyaris luput dari usaha pengeboman atau serangan senjata langsung seperti kejadian di negara lain. Israel bertarung di kawasan konflik seperti di jalur Gaza, Tepi Barat atau di area pemukiman Jerusalem lainnya.

Israel mengalami perlawanan sengit dari dalam, sedangkan dari luar pengamanan Israel sangat ketat. Pengamanan, entah ketat atau longgar merupakan otoritas politik sebuah negara. Dikutuk dari segala penjuru dunia, fakta di lapangan memperlihatkan bahwa Israel memegang kendali otoritas politik.

Mengunjungi Al Aqsa di Jerusalem -Palestina, menjadi dambaan setiap orang. Jerusalem konon disebut kota Tiga Tanah Suci Tiga Agama Samawi. Milik umat Islam, Yahudi, dan Kristen Ortodok.

Umat Islam dengan Masjidil Aqsa seluas 144.000 meter persegi di dalamnya terdapat beberapa masjid (dua terbesar adalah Dome of The Rock dan Masjid Kibly). Kaum Kristiani mempunyai Gereja Kimayah yang diyakini sebagai tempat Yesus disalib. Sedangkan umat Yahudi mempunyai tempat ibadah berupa Tembok Ratapan.

Pintu masuk menuju wilayah Palestina bisa melalui Mesir atau lewat Jordania, semuanya ditempuh lewat jalur darat. Tetapi harus diingat pergi ke sana bukan persoalan mudah. Otoritas kekuasaan 100 persen berada di tangan Israel.

Visa kedatangan gampang-gampang susah. Bahkan bisa keluar beberapa jam sebelum rombongan tiba memasuki wilayah Palestina. Tidak sedikit rombongan ditolak masuk oleh pihak Israel meskipun mereka sudah berada di ambang perbatasan.

Berangkat dan pulang menuju Palestina --dari wilayah Mesir, pengamanan terasa sangat ketat. Jalanan lebar, mulus dan menyerupai jalan tol. Belum sempat nyenyak tidur sebentar-sebentar bis harus berhenti, atau setidaknya jalan pelan-pelan. Barikade kawat berduri disertai pasukan bersenjata di kanan-kiri.

Jika pada waktu berangkat dari Taba kami melakukan perjalanan pagi hari menghabiskan waktu 12 jam lamanya disertai berhenti di beberapa tempat makam para nabi. Pulangnya dari Palestina langsung menuju Mesir memakan waktu hampir 16 jam. Perjalanan balik dilakukan melalui rute sedikit berputar karena berjalan pada malam hari.

Selama berada di Mesir dan Palestina Manaya Indonesia bekerjasama dengan travel MISR milik BUMN Mesir sehingga relatif aman. Petugas pengamanan travel cukup melambaikan tangan dari dalam bis ketika berada di cek poin.

Sekali tempo mereka turun dari bis jika ada sesuatu yang dinilai kurang layak. Dari Kairo sampai perbatasan Taba yang berjarak 500 kilometer tercatat ada 19 cek poin.

Begitulah, selama tiga hari dua malam berada di bumi Palestina terasa melelahkan namun juga sekaligus menyenangkan! Menginjak hari kedua, di tengah perjalanan sekembalinya dari Hebron tiba-tiba bis disetop petugas keamanan. Setelah berhenti dua tentara bersenjata, satu pria dan satu lagi perempuan masuk ke dalam bis memeriksa rombongan kami.

Tentara pria berjalan pelan menuju ke belakang, sedangkan yang perempuan bersiaga di samping pengemudi bis. Persis berada di damping saya, moncong senjata laras panjang milik tentara pria menyenggol pundak kiri. Dia berbalik arah, lalu menepuk pundak kiri saya sambil berkata, "Sorry, well okay."

Sungguh mati, tadi pas menyentuh pundak saya sama sekali tak pernah berharap senjatanya bakal meletus. Alhamdulillah.

Selalu ada kejutan menuju Palestina. Dengan kalimat lain, meminjam istilah Mukharam Khadafi, owner Manaya Indonesia: "Segala sesuatu bisa saja terjadi".






Postingan Lama Beranda

Postingan Populer

  • Sunda Kiwari TV, Wajah Baru Sapa Langit Biru
    (Foto: Herru Soleh) Launching Brand Baru SKTV stasiun TV lokal pertama di Kota Bandung. Hari Jumat (8/9/2017) malam langit biru Kota Bandung...
  • Dampak Industri terparah, Akibat Corona
    Di tengah virus corona (Covid-19) yang semakin menyebar ini, ada beberapa sektor industri yang terdampak oleh wabah tersebut. Bagaimana tida...
  • Mengapa Perlu Pasar Bebas?
    IAF Seminar "Promoting Entrepreneurship and Open Markets", 12 - 24 Agustus 2018 Message 04.10.2018 Nurkholisoh Ibnu Aman* Pesert...
  • Butuh Stamina Luar Biasa
    Dome of The Rock atau Kubah Mas salah satu masjid di Al Aqsa sore hari (Foto:ABH) Hawa dingin menusuk tulang. Suhu udara berada pada kisara...

Categories

Analisis 1 Berita 4 Cerpen 1 Ekonomi 4 Euforia 2 Gaya hidup 6 Humaniora 17 iTekno 1 Jalan Sore 5 Khazanah 5 Lite News 3 Manaya TV 1 Nusantara 31 Palestina 4 Sosok 9 Turki 2 Umroh & Haji 7 Umum 1

Follow Us

ABOUT AUTHOR

Ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan Arrisalah. Sesekali chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!. ;)

Album Flicker

About Me

Advertisement

Copyright © 2016 Majelis Hasbunallah Indonesia. Created by OddThemes