Majelis Hasbunallah Indonesia

  • Beranda
  • Khazanah
    • Peristiwa
    • Viral Dunia
    • Cerita Bahtera
    • Ada Ada Saja
      • Menuai Badai
      • Sandi Alam
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Mlaku Mlaku
  • Mutiara Hikmah
  • Contact Us
Diberdayakan oleh Blogger.




Di tengah virus corona (Covid-19) yang semakin menyebar ini, ada beberapa sektor industri yang terdampak oleh wabah tersebut.

Bagaimana tidak,  virus corona menghentikan roda bisnis beberapa sektor industri yang memang tidak bisa berjalan dengan hanya work from home saja.
Dengan demikian, maka ekonomi dari industri tersebut terpaksa harus mengalami penurunan selama masa Covid-19 ini.
Ada beberapa perusahaan yang bahkan melakukan PHK atau memotong gaji karyawannya.
Lalu kira-kira apa saja industri yang terdampak virus corona saat ini?


Industri Pariwisata

Dalam riset Moodys yang tercantum di dalam Kontan, industri pariwisata menjadi industri yang terpapar cukup tinggi akibat virus corona ini.

Wajar saja, pasalnya banyak sekali negara-negara yang memberlakukan lockdown sehingga otomatis bisnis pariwisata terhenti demi mencegah penyebaran virus corona antarnegara.

Tidak hanya pariwisata internasional saja, di Indonesia sendiri industri pariwisata juga lesu akibat terdampak virus corona.

Secara spesifik, dampak virus corona ini juga dirasakan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Mereka mengatakan lewat Katadata, bahwa anjloknya okupansi hingga angka 40% membawa dampak yang cukup besar dalam keberlangsungan bisnis hotel.

Akibat kejadian ini, beberapa hotel di Bali dan Batam meminta karyawannya untuk cuti.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa industri pariwisata menjadi industri yang terkena dampak negatif dari virus corona dengan kerugian sangat besar.



Industri Maskapai Penerbangan

Selain pariwisata, maskapai penerbangan juga termasuk ke dalam kategori industri yang terpapar cukup tinggi akibat virus corona.

Akibat pandemi global saat ini, maskapai penerbangan terpaksa harus mengurangi penerbangan internasional guna mencegah terjadinya penyebaran yang semakin meluas.

Menurut Kontan, salah satu maskapai penerbangan di Indonesia, PT Citilink Indonesia telah mengurangi penerbangan internasional sesuai kebijakan dari negara tujuan seperti China dan Jeddah.

Meskipun terkena dampak virus corona, Direktur Utama PT Citilink Indonesia, Juliandra, mengaku tidak berniat untuk memutus hubungan kerja karyawan.

Namun, tidak menutup kemungkinan ada maskapai penerbangan yan akan melakukan PHK besar-besaran terhadap para karyawannya.

Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Denon Prawiratmadja berkata lewat Liputan6, bahwa beberapa maskapai telah memilih opsi untuk menutup operasi.

Selain itu, mereka juga melakukan PHK terhadap karyawannya karena pandemi Corona untuk mengurangi kerugian.



Industri Manufaktur

Industri manufaktur kemungkinan besar akan menerima dampak cukup besar akibat corona. Secara khusus, industri manufaktur yang diprediksi paling terdampak adalah manufaktur otomotif.

Meski demikian, menurut Marketwatch, perusahaan di bidang ini mungkin akan lebih berhati-hati jika ingin melakukan PHK. Pasalnya, mencari tenaga terampil di industri ini tergolong tidak mudah.



UMKM

Pelaku UMKM juga tampaknya terkena imbas akibat virus corona. Saat ini para pelaku UMKM mulai menghadapi berbagai macam kesulitan bisnis sejak Covid-19 menyerang.

Dilansir dari Kompas, Ketua Asosiasi UMKM Indonesia Ikhsan Ingratubun mengatakan bahwa omzet UMKM mulai turun sejak Februari tahun ini.

Kemudian memasuki bulan Maret, ada sejumlah UMKM yang tidak mendapatkan pemasukan sama sekali. Bahkan, ada juga beberapa UMKM yang melakukan pemecatan terhadap karyawannya akibat virus corona ini.

Dengan adanya beberapa sektor industri yang terdampak virus corona tersebut, kita tentu berharap agar pengaruhnya tidak terlalu besar bagi perekonomian.

Bagaimana dengan industrimu saat ini? Gabung dengan komunitas Glints untuk membagikan ceritamu, yuk. Kamu juga bisa mendengar pengalaman pengguna lain yang menghadapi situasi serupa.

Sedangkan kalau kamu jadi harus mencari peluang kerja baru di situasi seperti ini, tenang saja! Masih banyak perusahaan yang menantimu, kok. Cek lowongan pekerjaan terbaru di Glints dan jangan lupa sign up, ya.

Sumber glints.com
(Dok Pribadi)
Penerbangan Jakarta-Surabaya dengan Lion Air pesawat Airbus 330-300.
Langit sangat indah saat bis angkut yang membawa sekitar 25 penumpang tiba di depan pesawat Lion Air JT-592, Sabtu (20/10/2018), pukul 17.20. Senja mulai datang. Matahari pelan-pelan menghilang.

Butuh limabelas menit perjalanan dari Gate A2 Terminal 1 hingga lokasi pesawat yang berada di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Seharusnya perjalanan bis pengantar cuma 3-5 menit. Namun karena letak pesawat tidak sebagaimana mestinya, maka perjalanan agak lama.

Sore itu tidak ada lalu-lalang kendaraan, kecuali bis angkut milik maskapai berlogo kepala singa ini. Secara keseluruhan layanan penerbangan Terminal 2 menggunakan garbarata. Entah mengapa, Lion Air JT-592 bisa nyempal (baca; terpisah) sendirian. Agak mengherankan, karena di luar kebiasaan.

Terbang menggunakan Lion Air JT-592 paling sering, kalau enggan disebut pilihan favorit. Dari Jakarta relatif masih sore, sehingga tiba di Surabaya tidak terlalu malam. Karena telah terbiasa, maka saya sedikit hafal.

Setiba di atas pesawat terasa agak berbeda. Badan pesawat sangat luas. Barisan kursi tidak hanya di kanan dan kiri saja. Tengah juga ada tempat duduk.

Kabin atas ada di kanan, kiri, dan tengah. Kamar kecil seluruhnya ada delapan titik. Setelah duduk, membaca buku petunjuk, baru paham. Pesawat jumbo ini ternyata Airbus 330 seri 300.

Seorang pramugari saya tanya, kenapa bukan pesawat biasanya. Menurut penjelasan, pesawat ini besok pagi (Minggu, 21/10/18) bakal membawa jemaah umrah dari Surabaya menuju Tanah Suci. Pantas Kapten Pilot yang bernama Derry Muda Perkasa mengucapkan Assalamualaikum saat hendak terbang atau akan mendarat.

Umrah Harian
Bulan November 2017 Lion Air terbilang sukses memberangkatkan jemaah Umrah dari Tanah Air menuju Tanah Suci. Jemaahnya berasal dari 9 kota di Indonesia. Banjarmasin, Surabaya, Palembang, Padang, Balikpapan, Solo, Banda Aceh, Makassar, dan Jakarta. 

Program ini proyek perdana bagi Lion Air. Sukses tersebut kemudian berlanjut sampai Februari 2018, hingga Bulan Ramadhan 2018.

Lion Air mengoperasikan armada terbarunya Boeing 737 MAX 8 berdaya angkut sekitar 175 orang. Seiring bertambahnya peminat umrah, Lion Air memanfaatkan kekuatan Airbus A330-300 yang bisa sekaligus membawa 437 penumpang. Airbus jenis ini adalah pesawat yang menerbangkan saya dari Jakarta menuju Surabaya -sebagaimana cerita sebelumnya.

Tak disangka, program "Umrah Bersama Lion Air" mempunyai prospek baru. Per tanggal 14 Oktober 2018 lalu pihak Lion menambah frekuensi penerbangan tidak hanya sekali sepekan. Lion Air bakal melayani penerbangan umrah sehari sekali dari Bandara Internasional Kertajati Majalengka, Jawa Barat tujuan Madinah.

(Istimewa)
Boeing 737 MAX 8 dalam penerbangan perdana.


Prestasi buruk

Bukan berarti Lion Air berjalan tanpa halangan. Sedih dan duka seolah-olah "terbang bersama" Lion Air. Kabar tak sedap sering mendera maskapai ini. Langkah suksesnya diikuti prestasi buruk.

Di darat, pilot dan awak pesawat kerap urusan dengan aparat hukum lantaran terlibat berbagai kasus. Paling menarik jika ada berita pilot dan awak maskapai terjerat narkoba. 

Di udara, Lion Air memiliki catatan buruk. Berulangkali media mainstream menulis soal pesawat Lion delay akibat rusaknya pesawat. Di televisi sering melihat tayangan penumpang mengamuk, bahkan mengobrak abrik kantor perwakilan Lion Air di bandara.

Jejaring media sosial menjadi pusat curhat. Itu semua bentuk akumulasi kekesalan penumpang terkait minimnya informasi jika sedang terjadi keterlambatan pesawat. Entah, apalagi. Sepertinya masih banyak!

Aksi korporasi memborong berbagai merek dan jenis pesawat baru tidak serta merta menutup bencana. Pesawat Lion Air JT-610 yang mengalami musibah di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) disebut-sebut masih baru beroperasi.

Boeing 737 MAX 8 -yang mengalami tragedi itu, tidak hanya baru bagi Lion Air, tetapi juga baru buat Boeing, pabrikan pesawat utama asal Amerika Serikat. Lion Air Group terpikat program 737 MAX yang diluncurkan pada 20011. Boeing, antara lain, menggunakan komponen baru yang lebih efisien.

Sebagai generasi terbaru, Boeing 737 MAX dirancang sebagai pesawat penumpang super canggih. Pesawat ini memiliki kekuatan pada struktur, aerodinamika, dan avionik.

Menurut keterangan resmi Boeing, sebagaimana dikutip dari Harian Kompas, pihak Lion Air memesan 201 unit 737 MAX pada 17 November 2011, tak sampai dua bulan sejak program 737 MAX resmi diluncurkan Boeing.

Lion Air juga menjadi pengguna pertama (launch customer) varian 737 MAX 9. Boeing 737 MAX 8 beregistrasi PK-LQP terjatuh di perairan Karawang, Senin (29/10/2018) adalah 737 MAX ke-10 yang dioperasikan Lion Air.

Benci tapi rindu
Insiden pesawat terbang itu melahirkan hikmah sangat menarik. Betapa sering penumpang merasa kesal terhadap Lion Air. Namun minat terbang menggunakan maskapai ini tetap tinggi. Mirip syair lagu, Lion Air dibenci tapi juga dirindukan. Aneh tapi nyata.

(Dok Pribadi)
Pilihan favorit Jakarta-Surabaya
menggunakan Lion Air JT-592.
Pasca kejadian, ada seorang pilot maskapai Batik Air, Captain Vincent Raditya tampil memberikan testimoni. Lewatsebuah videonya yang diposting melalui akun YouTube pribadinya, dia mengungkapkan:

 "Pesawat tidak ada yang didesain untuk crash. Pesawat didesain untuk membawa penumpang dari poin A ke poin B secara efisien, aman, dan seperti itu.

Maka dibuatlah disana harus ada 2 orang  pilot di depan dan berbagai macam aturan dibuat disana.

Semua aturan tersebut harus dipatuhi untuk menjaga keamanan seluruh penumpang tentunya.

Kalau kita sudah melihat bagaimana awal mulai sejarah itu terjadi, harusnya kita paham. Tidak ada pesawat di dunia ini yang dibuat untuk crash guys, berikut juga dengan krunya.

Kru seperti saya dan awak penerbangan itu tidak  ada yang dilatih untuk sengaja menjatuhkan pesawat.

Kami dilatih menghandle berbagai macam problem di udara, lagi-lagi ujungnya untuk menjamin keselamatan semuanya...."


Pernyataan Vincent sangat memikat!

Dari musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, kabar terakhir Tim Basarnas telah menemukan kotak hitam. Sebagian jenazah korban juga sudah diangkat.

Masyarakat hampir di seluruh belahan dunia ikut berdoa.  Mudah-mudahan semua amalan semasa hidup dari 168 penumpang yang meninggal bisa diterima oleh Tuhan YME. Kepada keluarga korban yang sampai saat ini masih berharap dan menunggu jasad orang-orang terkasih mereka, semoga diberikan ketabahan iman.

Peristiwa jatuhnya pesawat pasti menyedot perhatian dunia penerbangan. Tahun 2017 kinerja penerbangan sipil Indonesia sudah bagus. Dinilai minim kecelakaan fatal. Upaya berbagai pihak untuk meningkatakan standar keselamatan penerbangan merasa terpukul atas kejadian gagal terbang Lion Air JT-610 yang merenggut ratusan jiwa. Pengalaman berharga.
 Ziarah makam Habib Noh di Palmer Road, Singapura (Dok Pribadi)

Penipuan yang mengiringi pelaksanaan ibadah umrah sungguh tragis. Kasusnya berulang membuat semua pihak miris. Ribuan korban tak bisa berangkat berteriak histeris. Sedangkan yang terlantar di negeri orang gagal pulang pun menangis

Kasus penipuan terbaru menimpa jemaah travel Bumi Minang Pertiwi (BMP), Sumatra Barat. Puluhan peserta umrah kedapatan terlantar di Arab Saudi dan Malaysia. Kementerian Agama -Kemenag, menegaskan tidak tinggal diam. Izin operasional travel yang berbasis di Padang itu bakal dicabut.

Data terakhir terdapat sekitar 84 jemaah terlantar di Saudi sudah balik ke Indonesia. Kedatangan itu menyusul pemulangan 91 jemaah BMP lainnya yang tertahan di Malaysia dan gagal berangkat ke Saudi.

Kasus jemaah terlantar di Malaysia oleh Kemenag dinilai lebih parah karena berujung gagal berangkat. Segala bentuk penelantaran jemaah termasuk melanggar Peraturan Menteri Agama (PMA) sesuai pasal 25PMA8/2018 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah.

Kisah ini mengingatkan kisah sebelumnya tentang penipuan jemaah umrah First Travel (Jawa Barat) dan kasus PT Amanah Bersama Ummat -Abu Tour (Sulawesi Selatan). First Travel merugikan 63.310 calon jamaah dengan nilai Rp 905,3 miliar. Sedangkan Abu Tours menipu 86.720 orang dengan kerugian Rp 1,8 triliun.

"Jadi memang sejak awal, pendiri hanya ingin, katakanlah, menipu karena tidak mungkin orang umrah dengan Rp 13 juta atau Rp 12 juta. Itu tidak mungkin" tutur Wakil Presiden Yusuf Kalla dalam sebuah acara di Cimanggis, Depok akhir pekan lalu (Sabtu, 31/3/2018).

Berdasarkan penelusuran, penipuan First Travel maupun Abu Tours cenderung memiliki kesamaan pola. Masing-masing menawarkan paket umrah dengan harga tak masuk akal, kalau enggan disebut murah. Travel BMP memiliki modus yang sama.

Kecenderungan pola tersebut antara lain, para pendirinya punya kesamaan gaya hidup hedonisme. Pendiri First Travel maupun Abu Tours ditengarai suka jalan-jalan, mengoleksi barang mewah dan memamerkannya kepada khalayak melalui media sosial.

Latar belakang keduanya pun sama-sama pernah mengalami hidup susah. Pemilik Abu Tours pernah menjadi tukang cuci piring di sebuah restoran pizza, dan sempat berjualan Es Teler hingga Coto Makassar. Sedangkan bos First Travel selama 8 tahun sempat berjualan pulsa dan roti burger.

Pamer kemewahan setelah sukses merupakan bentuk pelampiasan atas masa lalu yang tidak menyenangkan. Sebuah usaha untuk mendapatkan pengakuan, terutama bagi kaum muda yang telah memperoleh kekayaan dalam waktu relatif singkat.

Selama ini ada anggapan bahwa ibadah umrah akan selalu mendapat cobaan. Calon jamaah diminta untuk terus bersabar, dan bahkan sebagian diminta untuk menambah uang pendaftaran, demi memperlancar aksi penipuan.

Cobaan dan kesabaran itu menjadi nilai jual yang ampuh. Celah ini dimanfaatkan oknum untuk menipu calon jamaah. Pemilik First Travel, bosAbu Tours, dan Bumi Minang Pertiwi sukses mengemas "cobaan kesabaran" menjadi sumber penghasilan.

Umrah Mandiri
Sekitar lima belas hari (22 Februari -- 10 Maret 2018) saya melaksanakan "Umrah Plus Al Aqsa". Perjalanan ibadah ini sepenuhnya atas inisiatif  sohib Juliantono Hadi, Kepala Sekolah SMK Dr. Soetomo Surabaya.

Juliantono Hadi sering memberangkatkan umrah secara gratis kepada  guru di lingkungan SMK Dr. Soetomo. Kegiatan ini berlangsung sejak tahun 2016, dan hingga saat ini telah berangkat lebih dari 20 orang guru berikut keluarganya.

(Dok Pribadi)
Juliantono Hadi (kanan)
dan Mukharam Khadafy (kiri) selalu santai.


Selain umrah, Cak Joel Bonek Mania -panggilan lain Juliantono Hadi, juga memberangkatkan guru-guru non muslim mengunjungi Kota Bethlehem dan tempat suci umat Kristiani. Program-program tersebut terselenggara setiap tahun tanpa sedikit pun mengganggu uang operasional sekolah.
Selama ini biro perjalanan yang mengantarkan umrah keluarga besar Smekdor's -nama beken SMK Dr. Soetomo Surabaya, adalah PT Manaya Indonesia. Biro perjalanan yang berlamat di Wonokoyo, Sidoarjo itu boleh dikata menjadi langganan.

Sebagai Kepala Sekolah SMK Dr. Soetomo dengan program berbagai keahlian (Akutansi-Pemasaran-Multimedia-Perhotelan-Teknik Produksi Fil&Program Televisi), Juliantono Hadi tentu tidak main-main memilihkan partner umrah untuk koleganya.

Sejak pertama menentukan keberangkatan "Umrah Plus Al Aqsa" sudah terjalin diskusi. Melalui iPad Mini Julianto Hadi membeberkan peta lokasi tujuan. Selain menunjuk beberapa hotel di Yerusalem, dia berpesan agar Manaya Indonesia dapat memperpanjang masa tinggal selama di Palestina.

Menurut Julianto Hadi, rasanya kurang nyaman kalau perjalanan jauh hanya menginap satu hari. Di kemudiaan hari memang terbukti kami bisa menikmati Palestina selama tiga hari.

Direktur PT Manaya Indonesia, Mukharam Khadafy (34th) mencermati semua permintaan tersebut. Katanya, Manaya Indonesia akan mengatur pemesanan visa. Akomodasi, mau menginap di hotel macam apa silakan pilih. Pria kelahiran Surabaya ini sering mengenakan sarung, dan tak pernah lepas dari songkok hitam atau kopiah putih.

Penyelenggaraan perjalanan umrah bukan semata-mata mengandalkan bisnis. "Umrah itu ibadah, karena itu kami harus bisa memberi pelayanan lebih" jelas Mukharam Khadafy.

Memberikan pelayanan lebih tidak harus mahal. Namun harga murah juga bukan berarti murahan. Lalu apa? "Saya ini pelayan umat. Harus bisa berhemat!" kata Mukharam Khadafy.

Sebelum perjalanan menuju Tanah Suci, rombongan berjumlah 11 orang ini singgah satu malam di Singapura. Kami ziarah ke makam Sayyid Noh bin Mohammad Alhabshe, atau dikenal dengan sebutan Habib Noh yang berada di Palmer Road, Tanjong Pagar, Singapura.

Berada di Singapura kinerja Mukharam Khadafy cukup cekatan. Seluruh jemaah membawa sendiri tas bawaannya, bahkan saling membantu. Wajar jika Khadafy bilang hemat. Bapak dari tiga anak ini memanfaatkan aplikasi di gadgetnya untuk memenuhi semua keperluan akomodasi.

Kepada setiap jemaah dia selalu terbuka. Mulai tiket, jadwal keberangkatan hingga urusan paspor dan bagasi. Ketika antre keberangkatan, ada jemaah bertanya -soal tiket, dia menjawab sambil tersenyum, "Sudah saya kirim lewat WA".

(Dok Pribadi)
Juliantono Hadi (kiri) dan Khadafi (dua dari kiri) bersama para jemaah.

Saat ini travel perjalanan haji dan umrah terdaftar di Kemenag sekitar 700-an. Di luar itu yang tidak terdaftar atau masih proses pendaftaran ada ribuan jumlahnya.

Banyak travel biro perjalanan umrah bermasalah. Namun ada juga cerita travel umrah yang justru dapat menyelesaikan masalah. Bisa dibayangkan, dalam setahun ada sekitar 1 juta orang Indonesia melaksanakan ibadah umrah. Butuh pemikiran konkrit ala Juliantono Hadi dan Mukharam Khadafy.

Sejak berangkat dari Juanda Surabaya sampai Singapura kami merasa aman. Selama berada di Tanah Suci mulai Mekah, Medinah, dan Palestina hingga kembali ke Tanah Air, Alhamdulillah juga nyaman.

Penyelenggara perjalanan ibadah umrah berjalan di antara dua jurusan. Tidak banyak, hanya dua pilihan. Jurusan kebaikan, atau jurusan penipuan.

Pilihan Julianto Hadi menggandeng Manaya Indonesia tidak salah tunjuk. Zaman sudah terbuka, pelajaran berharga bagi siapa saja. Jemaah mulai dikenalkan perjalanan umrah secara mandiri.


IAF Seminar "Promoting Entrepreneurship and Open Markets", 12 - 24 Agustus 2018

Message04.10.2018Nurkholisoh Ibnu Aman*

Peserta Seminar dari Berbagai Negara
Peserta Seminar dari Berbagai NegaraIAF
Mewakili Yayasan Kebebasan Indonesia, saya berkesempatan mengikuti seminar di International Academy for Leadership (IAF) Gummersbach Jerman yang bertajuk “Promoting Enterpreneurship and Open Markets”. Seminar berlangsung selama 12 hari (12-24 Agustus 2018) dan diikuti oleh 25 peserta dari 24 negara.

Meskipun datang dari berbagai latar belakang, para peserta seminar memiliki kemiripan cara pandang. Bahwa setiap individu berhak untuk melakukan kegiatan usaha. Bahwa masyarakat memiliki kebebasan untuk memilih produk dan jasa yang menurut mereka terbaik sehingga terjadi kompetisi dan inovasi di antara produsen. Dan bahwa negara wajib melindungi hak kepemilikan (property rights) dan menegakkan aturan main (rule of law) dalam berbisnis.

Dalam literatur ilmu ekonomi, cara pandang semacam itu dikenal sebagai paham kapitalisme atau aliran liberalisme ekonomi.

Sayangnya, istilah kapitalisme dan liberalisme saat ini cenderung memiliki konotasi buruk. Ia dianggap menyuburkan ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Jargon yang umum dikutip para pengkritik kapitalisme adalah “yang kaya semakin kaya sementara yang miskin semakin miskin”. Pengusaha yang berhasil dalam sistem ini sering diasumsikan sebagai pebisnis yang jahat, rakus atau berlaku curang.
Seminar ini memang bertujuan untuk mendiskusikan berbagai topik seputar bisnis dan ekonomi dari sudut pandang liberal. Termasuk strategi meluruskan pandangan masyarakat yang terlanjur keliru tersebut.

Memerangi Miskonsepsi
Di awal seminar, peserta mendiskusikan berbagai dimensi kewirausahaan. Di satu sisi, seorang pengusaha (kapitalis) biasanya dielu-elukan karena menciptakan lapangan kerja, melayani kebutuhan masyarakat dan memperkenalkan inovasi terbaru sehingga peradaban manusia menjadi maju. Namun di sisi lain, pengusaha sering mendapat cap buruk sebagai serakah karena mengejar profit. Pengusaha juga dituduh mendorong konsumerisme dan menciptakan jarak dengan kaum pekerja yang harus puas menerima gaji pas-pasan.

Kritik keras terhadap pengusaha biasanya kemudian melebar ke sistem yang memungkinkan mereka berjaya: pasar bebas. Ekonomi pasar bebas dianggap menguntungkan segelintir saja manusia dengan mengeksploitasi sebagian besar yang lain.

Bagi para pengkritik ini, pasar seharusnya diatur dengan berbagai instrumen. Mereka memimpikan sebuah ekonomi utopia ketika Pemerintah mengurus segalanya, mulai dari produksi, kualitas hingga harga. Bagi mereka, harga barang harus murah dan dijaga oleh Pemerintah. Profit dari bisnis pun harus dibatasi agar kemakmuran merata. Bidang usaha yang strategis dikuasai oleh badan usaha milik negara sebagai pelaksana kebijakan Pemerintah.

Dalam konteks perdagangan antarnegara, pasar bebas sering dilihat sebagai ancaman terhadap industri lokal dan kedaulatan negara (misal dalam kasus impor pangan).
Diskusi di kelas mengungkapkan bahwa miskonsepsi semacam ini ternyata terjadi dimana-mana. Paranoia terhadap free market economy ada di berbagai negara dengan bermacam alasan.
Lalu apa argumen terbaik untuk membela pasar bebas?

Dr. Emmanuel Martin, salah seorang narasumber, memutar video singkat yang menceritakan upaya seseorang untuk memproduksi sendiri sebuah roti isi (sandwhich). Sang aktor berkeras untuk swasembada dan benar-benar memproduksi sendiri semua komponen makanan favoritnya tersebut. Mulai dari gandum, sayur, daging hingga saus kecapnya.

Alhasil, setelah enam bulan bekerja dan menghabiskan biaya US$1.500, ia berhasil membuat sendiri sebuah sandwich. Sungguh sebuah harga dan usaha yang amat mahal untuk sebuah makanan sederhana yang hanya dinikmati dalam sekejap.
Suasana Kelas
Suasana KelasIAF
Pesan yang ingin disampaikan oleh video tersebut adalah bahwa tidak ada negara/ekonomi yang mampu memproduksi sendiri semua kebutuhan masyarakatnya. Kalaupun negara semacam itu ada, pasti ada negara lain di luar sana yang mampu memproduksi barang dan jasa yang sama namun dengan lebih baik (lebih efisien, lebih murah, lebih berkualitas).
Maka perdagangan antar negara sebenarnya adalah mekanisme yang wajar. Untuk memastikan terjadinya alokasi sumber daya secara efisien. Mereka yang paling efisien akan berjaya. Mereka yang kurang efisien akan kalah dan harus mencari produk/servis baru yang mampu ia produksi secara lebih kompetitif. Sebuah konsep yang dikenal sebagai “division of labor.”

Sejarah dunia juga membuktikan bahwa perdagangan antarnegara berkontribusi positif pada perdamaian dunia. Karena kalau tidak terjadi pertukaran sumber daya secara baik-baik (melalui transaksi jual beli), besar kemungkinan akan terjadi dengan tidak baik-baik.
Terkait harga, ekonomi pasar bebas memperlakukan harga barang dan jasa sebagai indikator yang penting. Ia adalah refleksi kondisi penawaran dan permintaan. Harga mencerminkan keseimbangan antara jumlah yang dibutuhkan dan jumlah yang tersedia.

Oleh karena itu, harga adalah cara alami untuk mengkoordinasikan begitu banyak pelaku dalam suatu sistem ekonomi. Sebagai contoh, kenaikan harga karena permintaan yang meningkat memberi insentif bagi produsen untuk memprodusi lebih banyak dan meraih lebih besar keuntungan. Semua itu terjadi begitu saja secara otomatis dan sukarela di antara pelaku ekonomi, tanpa paksaan apalagi intervensi Pemerintah (“spontaneous order”).

Peran Pemerintah
Miskonsepsi lain terkait liberalisme ekonomi adalah absennya pemerintah. Banyak yang menganggap bahwa pasar bebas adalah kegiatan ekonomi tanpa kehadiran pemerintah. Oleh karena itu, pelaku usaha yang kuat niscaya akan memangsa yang lemah sehingga terjadi penindasan dan ketimpangan.
Padahal, pasar bebas bukan berarti tanpa regulasi sama sekali. Tetap perlu sebuah pengaturan untuk memastikan terjadi kompetisi yang adil dan tersedianya kesempatan bagi semua. Pemerintah diperlukan untuk menjamin hak kepemilikan (property rights).

Selain itu, ada beberapa kebutuhan hidup mendasar yang hanya bisa disediakan oleh Pemerintah dan tidak bisa diserahkan pengadaannya kepada pasar. Misalnya, keamanan dan fasilitas publik seperti taman kota dan jalan raya.

Ilustrasi Peran Pemerintah
Ilustrasi Peran PemerintahIAF

Namun di sisi lain, peran pemerintah di pasar perlu disikapi dengan hati-hati. Ada risiko bahwa kebijakan Pemerintah dapat sengaja diciptakan untuk melindungi kepentingan petahana. Misalnya dengan menciptakan barrier to entry sehingga melemahkan posisi pemain baru di pasar.
Terkait hal ini, saya diundang untuk mempresentasikan studi kasus dari Indonesia yang relevan dengan isu “peran pemerintah di dalam pasar terbuka”. Saya mengangkat topik Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai ilustrasi intervensi pemerintah di pasar kredit mikro.
Di satu sisi, program KUR berhasil menyediakan fasilitas kredit UMKM yang lebih mudah dan murah dibandingkan mekanisme pasar yang berlaku yaitu kredit komersial perbankan. Namun di sisi lain, program KUR memiliki potensi moral hazard dan sulit diandalkan sebagai solusi permanen terhadap kondisi pasar kredit di Indonesia yang tidak sempurna (imperfect market).

Presentasi tentang KUR
Presentasi tentang KURIAF
Ekskursi
Komponen penting dari setiap seminar IAF adalah kunjungan lapangan (excursion). Kami diajak mengunjungi sejumlah institusi yang relevan dengan tema seminar.

Gründer- und Technologie Centrum (GTC) Gummersbach
GTC adalah perusahaan swasta yang memberi jasa layanan dan dukungan usaha bagi perusahaan rintisan (start up). Semacam inkubator bisnis. Layanan yang disediakan bervariasi mulai dari penyewaan kantor, konsultasi bisnis, permodalan hingga pemasaran.
Sejak berdiri tahun 1996, GTC mengklaim telah berhasil “meluluskan” 174 perusahaan yang menciptakan hampir 1.000 lapangan kerja.

Liputan Media Lokal terhadap Kunjungan ke GTC Gummersbach
Liputan Media Lokal terhadap Kunjungan ke GTC Gummersbach IAF & Nurkholisoh Aman
 
Startup Dock Hamburg
Startup Dock memiliki peran yang kurang lebih mirip dengan GTC namun berfokus pada perusahaan rintisan yang lahir di lingkungan akademis/kampus. Berbeda dengan GTC, Startup Dock dibiayai oleh anggaran publik (hibah dan APBD) sehingga jasa yang diberikan bersifat cuma-cuma.
Di sini, kami berkesempatan untuk berdialog langsung dengan sejumlah perusahaan rintisan yang sedang dalam “masa asuhan”. Para pendiri perusahaan ini umumnya mahasiswa tingkat akhir atau yang baru lulus kuliah. Alih-alih mencari kerja, mereka memilih untuk serius mengembangkan ide bisnis dan meluncurkan perusahaan sendiri.

Keistimewaan Startup Dock adalah dukungan total terhadap perusahaan yang diasuh. Sebagai contoh, selama dua tahun, para mahasiswa ini mendapat uang saku yang cukup untuk membiayai ongkos hidup sehari-hari. Bantuan finansial ini diberikan tanpa ikatan dan tanpa kewajiban mengembalikan sehingga para wirausaha muda ini dapat berfokus mengembangkan bisnis mereka.

Narasumber dalam Kunjungan ke Startup Dock Hamburg
Narasumber dalam Kunjungan ke Startup Dock HamburgIAF
Hamburg Chamber of Commerce (HCC)
Kami juga berkunjung ke semacam KADIN di Hamburg untuk mendapat wawasan tentang tantangan utama yang dihadapi pebisnis. Di wilayah Hamburg dan sekitarnya, HCC memang menjadi wakil resmi pengusaha (keanggotaan HCC adalah wajib) ketika berhubungan dengan birokrasi pemerintah. Selain melobi pemerintah, HCC juga memfasilitasi kerjasama di antara anggotanya, termasuk menjadi mediasi perselisihan bisnis.
Dalam kesempatan tersebut, narasumber HCC memaparkan sebuah position paper yang menarik tentang sikap HCC terhadap maraknya bisnis berbasis sharing economy seperti Uber, AirBnB, dan Spotify. HCC menerima banyak keluhan dari anggota tentang persaingan yang dirasakan tidak adil. Pelaku bisnis sharing economy dianggap menikmati keuntungan secara biaya (cost advantages) karena tidak perlu memenuhi persyaratan yang rumit sebagai badan usaha dan tidak menanggung berbagai implikasinya termasuk membayar pajak.
Secara ringkas, paper HCC menyatakan bahwa pebisnis di Hamburg sebenarnya tidak keberatan untuk berkompetisi. Mereka justru meyakini bahwa kompetisi itu bagus untuk mendorong inovasi dan menyortir bisnis yang tidak efisien (“creative destruction”). Namun HCC berharap Pemerintah memfasilitasi sebuah kompetisi yang adil. Keunggulan seharusnya didapatkan dari model bisnis yang lebih baik dan bukan karena memanfaatkan kelemahan regulasi.

Diskusi saat Kunjungan ke Hamburg Chambers of Commerce
Diskusi saat Kunjungan ke Hamburg Chambers of CommerceIAF


Penutup
Program selama 12 hari ini terasa singkat karena metode penyampaian materi yang menarik dan bervariasi. Proses belajar menjadi menyenangkan. Ada studi kasus, diskusi kelompok, simulasi, bermain peran (role play), hingga kompetisi berhadiah!
Sebagai fasilitator adalah Julian Kirchherr dan Sarinthorn Sachavirawong (Jyothi) yang ternyata pernah menjadi peserta seminar yang sama belasan tahun silam. Julian memiliki gelar doktor ilmu Geografi namun bekerja untuk McKinsey&Co Berlin sementara Jyothi berprofesi sebagai communcation specialist di British Chamber of Commerce Bangkok.

Suasana Diskusi Kelompok
Suasana Diskusi Kelompok IAF
 Salah Satu Hasil Kerja Kelompok (“kewirausahaan dalam kartun”) 


Salah Satu Hasil Kerja Kelompok (“kewirausahaan dalam kartun”)IAF
Latar belakang peserta yang beragam menambah seru interaksi. Peserta dari Filipina adalah seorang walikota muda yang harus mengatasi berbagai masalah klasik pemerintahan daerah kecil dan terpencil. Panama diwakili oleh pemuda berusia 22 tahun namun sudah memimpin perusahaan konsultasi bisnis sekaligus menjadi aktivis cryptocurrency. Sementara itu, Ekuador mengirimkan seorang agen properti profesional yang menyambi sebagai pengasuh acara radio bertemakan liberalisme.

Pada malam penutupan seminar, Direktur IAF Bertina Solinger menyimpulkan dengan apik benang merah dari kegiatan kami selama hampir dua minggu.

“Division of labor is necessary so free trade is just natural. Capitalism is good because it respects property rights. Competition promotes innovation and, most importantly, entrepreneurship is the path to prosperity.”

*Nurkholisoh Ibnu Aman adalah Kontributor SuaraKebebasan.Org serta anggota Dewan Penasihat Yayasan Kebebasan Indonesia.




Copyright Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit
Beranda

Postingan Populer

  • Sunda Kiwari TV, Wajah Baru Sapa Langit Biru
    (Foto: Herru Soleh) Launching Brand Baru SKTV stasiun TV lokal pertama di Kota Bandung. Hari Jumat (8/9/2017) malam langit biru Kota Bandung...
  • Dampak Industri terparah, Akibat Corona
    Di tengah virus corona (Covid-19) yang semakin menyebar ini, ada beberapa sektor industri yang terdampak oleh wabah tersebut. Bagaimana tida...
  • Mengapa Perlu Pasar Bebas?
    IAF Seminar "Promoting Entrepreneurship and Open Markets", 12 - 24 Agustus 2018 Message 04.10.2018 Nurkholisoh Ibnu Aman* Pesert...
  • Butuh Stamina Luar Biasa
    Dome of The Rock atau Kubah Mas salah satu masjid di Al Aqsa sore hari (Foto:ABH) Hawa dingin menusuk tulang. Suhu udara berada pada kisara...

Categories

Analisis 1 Berita 4 Cerpen 1 Ekonomi 4 Euforia 2 Gaya hidup 6 Humaniora 17 iTekno 1 Jalan Sore 5 Khazanah 5 Lite News 3 Manaya TV 1 Nusantara 31 Palestina 4 Sosok 9 Turki 2 Umroh & Haji 7 Umum 1

Follow Us

ABOUT AUTHOR

Ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan Arrisalah. Sesekali chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!. ;)

Album Flicker

About Me

Advertisement

Copyright © 2016 Majelis Hasbunallah Indonesia. Created by OddThemes