Majelis Hasbunallah Indonesia

  • Beranda
  • Khazanah
    • Peristiwa
    • Viral Dunia
    • Cerita Bahtera
    • Ada Ada Saja
      • Menuai Badai
      • Sandi Alam
  • Social
    • Facebook
    • Twitter
    • Googleplus
  • Mlaku Mlaku
  • Mutiara Hikmah
  • Contact Us
Diberdayakan oleh Blogger.
Buka bersama Puasa Ramadhan komunitas alumni Stikosa/AWS di Jakarta, Kamis (8/6/2017)
SEMUA wartawan tidak pernah lupa, unsur daya penarik pesona manusiawi dalam penyampaian informasi, merupakan satu sisi minat terhadap sebuah topik pemberitaan. Karenanya, dalam ilmu jurnalisme, disebut sebagai the human interest story.

Wartawan dan sastrawan, Ernest Hemingway dalam bukunya ‘Old News Man Writer’ (1934) menulis: Write about you know and write truly. Write about people you know that you love and hate, not about people you study about.

Tulislah tentang apa yang kau ketahui dan tulis dengan sejujurnya. Tulislah tentang orang-orang yang kau kenali, yang kau cintai dan kau benci, bukannya tentang orang-orang yang kau pelajari.

Maksudnya, menulis apa adanya dari sisi realitas kemanusiaannya, bukan dari sudut aspek kehidupan yang melalui suatu pengamatan atau penelitian.

Buka Bersama
Hari Kamis, 8 Juni 2017 lalu, alumni AWS yang tergabung dalam WhatsApp Group (WAG) “Keluarga AWS/Stikosa” menyelenggarakan buka bersama Puasa Ramadhan 1438 H di Jakarta. Hampir setiap tahun mereka mengadakan buka bersama. Paling sering diadakan di Aula Lembaga Pers Dr. Soetomo, Komplek Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih, Jakarta. Sekarang ke Jl. Prapanca, Jakarta, rumah salah seorang alumni, Dien Irhastini.

Cerita-cerita termasuk foto “bukber” alias buka bersama sejak sore sudah dikirim melalui WAG. Orang-orang yang berada di “Keluarga AWS/Stikosa” itu kreatif, bahkan terkadang agak jahil. Namun kreativitas sejumlah penghuni WAG tersebut sebenarnya menunjukkan aktualitas berbagai fenomena saat ini.

Sebuah foto bajaj warna biru muncul. Penumpangnya dua orang, Jacky Kussoy (aktivis media) dan Achmad Subechi (Pemimpin Redaksi Koran Warta Kota). Jacky menulis kaption,

“Foto di atas bukan sekadar untuk mejeng. Namun inilah pilihan kami berkendara menuju kediaman Mbak Dien (TKP), baku temu dengan konco-konco lawas di bulan suci Ramadhan. Buka bersama bersama. Cak Bechi datang untuk pertama kali, begitu juga Mbak Tri, tuan rumah dan konco lawasku, Mbak Iit. Makasih semuanya yg sudah gabung dan memberi atensi dari jauh. Gbu all…”.

Sensasi naik Bajaj menuju TKP
Bechi yang dimaksud nimbrung, “Mantap! Jacky edan. Enggak sabar menunggu taksi aku diajak naik metromini dari Palmerah menuju Blok M. Terus oper naik bajaj…”

Tak lama kemudian Hana Budiono (owner PT Agranet Multicitra Siberkom) menampilkan foto macam-macam kuliner menu utama buka bersama, nasi liwet, bakso, jajanan pembuka, dawet-cendol dan buah.

Dari Surabaya, Riamah Douliat wartawati yang menekuni bisnis majalah Nahdlatul Ulama “AULA”, ikutan nyeletuk, “Dari Surabaya cukup menikmati foto-foto dan laporannya aja. Sambil cleguk-cleguk. Senang ya…masakan Bu Dien enak-enak. Kita sudah puluhan tahun tidak bertemu. Jika ada umur panjang dan kesempatan, pasti ketemu. Semoga. Salam buat keluarga”

Dian Maria Andriana, wartawati dan redaktur senior LKBN Antara, komentar: “Iit Rufaida sama Jacky Kussoy berapa tahun nggak ketemu?. Pangsit gorengnya ayu…”

Sapto Anggoro (pendiri Binokular Media Monitoring), dari arena silaturahim menjawab: “Sejak lulus baru kali ini bertemu…”

Tak dapat dipungkiri bahwa silaturahim yang terjalin di era kemajuan teknologi, selalu menyisakan kebersamaan. Maklum, antara mereka ada yang sering bertemu, ada pula yang lama tak bersua. Dan, sekalipun acara sudah berakhir, sampai larut malam ungkapan demi ungkapan masih berlanjut.

Hana Budiono: “Alhamdulillah wa syukurilah….Semoga Allah ridho dengan silaturahim hari ini. Terimakasih teman-teman atas keakraban dan kebersamaan yang terjalin. Semoga langgeng. Aaamiin YRA.”

Dewi S Tanti: “Mbak Hana, saya dan adik-adik barisan muda juga mengucapkan terimakasih banyak atas kebersamaan yang mbak dan Mbak Dien (tuan rumah) buat. Salam hormat kagum untuk semua, semoga semua tetap sehat, selamat sukses dan berkah…”

Tri Setyowati Dyah (Kepala Sekolah, Karawang-Jawa Barat): “Makasih Bu Dien dan Bu Mufli yang telah memfasilitasi kami untuk temu kangen sambil bukber. Semoga tali silaturahim ini tetap terjalin sampai nanti. Aamiin…”

***

Atas dasar pemahaman Human Interest Story Ernest Hemingway itulah, maka setiap saat melihat kawan-kawan komunitas “Keluarga AWS/Stikosa” mengadakan pertemuan silaturahim, hampir pasti saya ikut menikmati. Baik secara fisik terlibat di dalamnya, maupun cukup membaca melalui pesan-pesan WAG. Salah satu kekuatan komunitas alumni ini adalah, sebagian besar masih aktif menjadi wartawan, sebagian lagi menjadi praktisi media seperti penulis lepas dan penulis buku. Kita berjumpa sebatas silaturahim, sebatas melepas kangen dengan cara “pul-kumpul” (Jawa: saling bertemu). Bukan dalam kapasitas reuni besar.

Jikalau ada yang bertanya, kenapa selalu ikut menikmati? Ya, karena komunitas ini merupakan kawan-kawan lama, sesama alumni Akademi Wartawan Surabaya. Berdasarkan pengalaman di kampus, kemudian berlanjut perjumpaan di medan liputan, lahirlah nilai-nilai kebersamaan.

Di dalamnya selalu ada informasi atau peristiwa yang bisa dijadikan topik berita-pesona-manusiawi. Langkah kawan-kawan senantiasa menginspirasi tindakan (baca: tulisan) positif. Saya kira itulah namanya virus kebaikan. Cara menularkan bisa dari mana saja. Kawan-kawan buka puasa bersama di Jakarta, sedangkan saya posisi di Surabaya. Maka menulis perihal silaturahim pun, bisa dari jarak jauh…!
(Dok Pri)
Juliantono Hadi (kiri) memberikan santunan kepada salah seorang Anak Yatim.
Mengelola sekolah ideal terkadang tidak bisa dicapai secara cepat. Perlu kesabaran untuk menanti tumbuh dan berkembang.

Di antara celah penantian tersebut ada sebuah langkah santun. Membuat rencana induk sejak awal yang terselip nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan agar suatu saat tumbuh dan berkembang sesuai impian.

Berada di atas tanah seluas 3000 meter persegi, terdiri bangunan 3 dan 5 lantai Juliantono Hadi berupaya mewujudkan mimpi. Bersama kawan-kawannya (baca: guru sekolah) dia bercita-cita kelak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dr. Soetomo harus menjadi tempat belajar mengajar yang kredibel.

Bukan sekadar fisik berupa gedung, sarana dan prasarana penunjang saja. Lebih dari itu. Sekolah ini merupakan buah pengingat. Pengingat untuk siapa saja!

Seorang Julianto Hadi menyadari, manusia adalah mahluk labil. Ada kalanya ia berbuat baik, pada waktu lain berbuat buruk. Suatu ketika ia ingat, pada saat lain lupa. Pada satu kesempatan ia benar, pada waktu lain salah.

Di sinilah pentingnya nasihat untuk mengingatkan. Melalui nasihat disertai petunjuk, orang salah menjadi benar, orang baik menjadi lebih baik, orang lupa segera tersadarkan, dan seterusnya.

Perilaku buruk tidak perlu dilanjutkan. Sikap negatif perlu diperbaiki. Semua butuh nasihat dan peringatan. Pengetahuan manusia terbatas, tak bisa menjangkau segala hal.  Ia perlu mendengarkan nasihat orang lain karena terkadang Allah memberikan petunjuk kepadanya melalui nasihat orang lain.

Hari Rabu (10/10/2018) "nasihat dan petunjuk" itu mewarnai halaman Smekdor's --kependekan dari Sekolah Menengah Kejuruan Dr. Soetomo, Jl. Jojoran IV Surabaya. Seluruh pemangku kepentingan dari Yayasan Tri Tunggal hadir melepas calon jemaah umrah guru dan karyawan Smekdor's.

Acara syukuran juga dibarengi dengan pemberian santunan kepada 25 Anak Yatim dari Yayasan Roudhotul Falah, Kebraon. Bersamaan itu juga dilakukan pengundian bagi peserta umrah periode tahun 2019.

Sebagaimana pernah ditulis Kompasiana, Juliantono Hadi -Kepala Sekolah SMK Dr. Soetomo, setiap tahun berinisiatif memberangkatkan umrah secara gratis kepada guru berserta keluarga. Sebagai orang nomor satu di Smekdor's, Juliantono juga mengirim guru-guru non muslim menuju ke Bethlehem atau tempat suci bagi umat Kristiani. Keberangkatan umrah difasilitasi oleh Biro Perjalanan Haji & Umrah PT Manaya Indonesia.

(Dok Pri)
Gus Luthfi Ma'had Tee Bee (atas) memberikan tausiah pada acara keberang katan jemaah umrah guru dan karyawan Smekdor's (Rabu, 10/10/2018). Juliantono Hadi dan Direktur Manaya, Mukaharam Khadafy (bawah)
Disadari atau tidak, kegiatan umrah dan wisata religi guru non muslim memberikan dampak positif terhadap sistem belajar-mengajar di Smekdor's. Yang lebih menarik, pada setiap acara yang melibatkan guru dan siswa pihak Smekdor's itu, Juliantono Hadi tidak pernah lupa mengundang Anak-anak Yatim.

Mistikus Korporat
Dalam era pasar global saat ini banyak ditemukan orang-orang suci, mistikus, atau sufi di sejumlah perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern. Bukan di masjid, wihara, kuil, atau gereja. Orang-orang ini sering disebut sebagai "Mistikus Korporat'.

Para Mistikus Korporat tersebut melihat perusahaan atau organisasi sebagai perwujudan kolektif ruh (spirit) atas jumlah total ruh individu-individu yang bekerja dan berkutat di dalamnya. Mereka berada dalam ikatan jejaring untuk mendukung hati dan jiwa orang-orang yang bekerja bersama mereka.

Para Mistikus Korporat bergerak mudah dari dunia spiritual ke dunia usaha atau organisasi. Mereka adalah para visioner dengan kaki tegak di atas tanah. Mementingkan kesatuan, tetapi pada saat yang sama, mereka mampu memusatkan perhatian pada detail karyawannya.

Para Mistikus Korporat selalu mencari keseimbangan hidup. Sebuah keseimbangan demi pencapaian sukses yang sebenarnya. Dunia ini bukanlah tempat sepi. Dunia adalah keniscayaan sejati, tempat manusia saling berbagi.

Di luar predikat sebagai Kepala Sekolah Juliantono Hadi merupakan Bonek Mania, sebutan bagi pendukung setia klub sepak bola Persebaya.

Bagi masyarakat Surabaya dan komunitas Bonek Mania, nama Juliantono Hadi agak asing. Mereka lebih akrab dengan sebutan Cak Joel.

Cak Joel lebih dikenal luas. Dia orang yang selalu menghembuskan nafas sportifitas kepada fans Persebaya. Menang atau kalah tetap berjiwa ksatria.

Ke mana pun pergi Cak Joel tak lupa membawa atribut Persebaya. Bahkan, ketika berziarah ke Makam Nabi Ibrahim As di Kota Hebron (Palestina) dia mengenakan kaos dari klub kesayangannya. Lalu, untuk menahan udara dingin sebuah syal Persebaya melilit di lehernya.

"Kebanggaanku Persebaya selalu kubawa dalam perjalanan. Di mana pun berada agar tetap tegak selamanya, tetap ingat sebagai Arek Suroboyo. Menang kusanjung kalah kudukung seri disyukuri saja," sebagaimana tertulis di akun Instagram @cakjoel pada 20 September 2018 lalu.

Media Sosial -medsos, bagi Juliantono Hadi merupakan tempat mencurahkan inspirasi hampir sepanjang hari. Twitter, Facebook dan Instagram sudah mengarsip ratusan foto dan tulisan buah karyanya. Kiprah jejak digital ini bisa diikuti setiap saat.

Sungguh patut disyukuri Smekdor's memiliki Juliantono "Cak Joel" Hadi. Sebaliknya, bagi Juliantono Hadi dengan brandSmekdor's berada dalam jangkauan karakteristik Mistikus Korporat.  Dia berhasil menembus lintas ilmu.

Ibarat magnet, penyerap energi positif sosok Juliantono Hadi memiliki bakat mengelola orang lain mewujudkan mimpi-mimpi besar. Mereka berdiri menatap masa depan dan menggambar peta secara rinci tentang cara mencapainya.

Hadiah umrah bagi guru-guru Smekdor's serta pemberian santunan kepada Anak Yatim itulah sesungguhnya hakekat dari sebuah "nasihat dan petunjuk". Hari ini kita menerima pesan tersirat, bahwa Juliantono Hadi merupakan bagian generasi Mistikus Korporat.

(Dok Pri)
Gapura di komplek Masjid Al Aqsha karya Juliantono Hadi
Instrumen yang disampaikan bukan dakwah atau wejangan, tetapi langkah nyata. Mengumrahkan guru sekaligus menyantuni Anak Yatim perkara gampang. Tetapi, ketika selalu dikerjakannya secara istiqomah, maka menjadi luar biasa.   

Hidup tanpa nasihat akan membuat kita tetap berjalan di tempat, stagnan. Kreativitas menjadi akan terangsang manakala kita sering mendengar dan menerima nasihat yang positif.

Oleh karena itu, manusia perlu peran orang lain dalam kehidupan hingga ia bisa meniti jalan ke tujuannya dengan baik dan selamat.

Dengan nasihat, kekurangan manusia menjadi tertambal. Dengan nasihat juga, kelebihan seseorang takkan membuatnya berubah menjadi sombong. Dengan nasihat juga, ia akan menjadi lebih bijak, rendah hati, dan peduli, serta menyayangi sesama.

Kepala Sekolah Smekdor's Juliantono Hadi tidak semata berkutat dengan kegiatan melulu berupa pendidikan. Sang Mistikus Korporat itu berdiri di antara nasihat dan petunjuk.
Vedi Irawan (27) meraih semangat bersama Go-Jek (Dok Pribadi)
Bloomberg baru saja merilis orang-orang di dunia yang paling menginspirasi. Mereka itu orang-orang yang terlibat dalam dunia bisnis dan keuangan, entertainment, politik hingga teknologi dan ilmu pengetahuan di mana sosoknya bisa membawa perubahan besar di tahun 2018 ini.

Cukup menarik perhatian. Dalam 50 daftar sosok-sosok yang ada, Nadiem Makarim, pendiri Go-Jek masuk ke dalamnya. Laporan itu menyebut bahwa Go-Jek telah mengubah kehidupan masyarakat Indonesia dalam waktu yang cepat.

"Tidak ada aplikasi yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat seperti Go-Jek. Fokusnya tidak hanya pada pemesanan sepeda motor (ojek), tetapi juga menjadi cara untuk membayar tagihan, memesan makan, atau menjadwalkan pembersihan rumah," tulis laporan itu, Jumat (7/12/2018).

Dalam keterangannya, 2018 Bloomberg 50 mengatakan bahwa layanan "berbagi aplikasi" Go-Jek yang berbasis di Indonesia juga bisa mendobrak untuk ekspansi ke luar negeri.

Jauh sebelum Go-Jek populer saya punya langganan tukang ojek, namanya Taufik. Mangkalnya selalu di depan Rumah Makan Pagi Sore, Jl. Krekot Bunder, Jakarta. Berjarak tidak jauh dari jembatan penyeberangan Pasar Baru. Rumah makan ini didirikan dan dikelola oleh para pendiri Harian Pos Kota.

RM Pagi Sore terkenal dengan olahan kepala ikan kakap. Setiap tugas ke Jakarta mau balik ke Surabaya saya sempatkan membeli masakan tersebut untuk dibawa pulang. Dari Krekot Bunder saya diantar Taufik ke pangkalan bis Damri di Gambir, kemudian lanjut menuju Bandara Soekarno Hatta.

Saya merupakan bagian dari keluarga besar Pos Kota (wartawan 1979-1983), jadi kadangkala cukup pesan lewat telepon sang juru masak. Saya menunggu di hotel atau di terminal bis Damri Gambir. Semuanya beres ditangani tukang ojek langganan.

Pada 2015 -setelah berkenalan lebih dari 10 tahun lamanya, lelaki berkumis tebal itu sakit. Dia pulang kampung ke daerah asalnya di Tegal (Jawa Tengah). Beberapa kali saling sapa lewat SMS. Tetapi, suatu hari saya telepon yang terima istrinya. Dikabarkan, bahwa Pak Taufik telah meninggal dunia. Tentu saya kaget, wong seminggu sebelumnya masih sempat SMS. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Semenjak itu saya memulai dengan kebiasaan baru. Dari dan menuju Krekot Bunder naik Go-Jek. Terhitung sudah puluhan kali menikmati layanan jasa ojek online. Sedikit demi sedikit, cerita menarik berhasil saya simak dari balik kehidupan mereka.

Pernah suatu ketika setiba dari Jakarta, keluar Bandara Juanda saya sengaja naik Bis Damri tujuan Terminal Bis Bungurasih. Saya turun di lampu merah pertigaan Raya Bandara Juanda dengan Raya Paben. Jalan kaki sebentar, sesampai di depan Hotel Sinar pesan Go-Jek menuju rumah kediaman.

Di tengah perjalanan pengemudi Go-Jek bertanya, "Pak, sewaktu pesan tadi apa tidak niteni (perhatian) nama saya? Sebenarnya sempat sekilas membaca namanya. Tapi, ketika memesan Go-Jek lebih sering menghafal nomor sepeda motor, ketimbang nama pengemudinya.
Seno Aji selfie selepas menurunkan saya
(Dok Pribadi)

Dia, Seno Aji Wibowo, salah seorang rekan di percetakan PT Antar Surya Jaya, tempat dimana Harian Surya dicetak. Pada siang hari, Seno bekerja sebagaimana biasa, malamnya nge-GoJek. Dia memanfaatkan waktu luang sebelum pulang, untuk menambah penghasilan. Lumayan, katanya.

Umrah Gratis
Sebenarnya saya tidak fanatik sebatas Go-Jek. Pernah juga berkenalan dengan Agus Yulianto (46th), pengemudi Grab. Agus tengah antre suntik meningitis di Kantor Kesehatan Pelabuhan di Perak Surabaya, 12 Februari 2018. Ceritanya, lelaki asal Blitar (Jawa Timur) ini mendapat hadiah Umrah secara gratis.

Dengan jujur Agus mengakui, sebenarnya dia sedang galau. Sepanjang tahun 2017 ujian dan cobaan silih berganti menyapa hidupnya. Agus pun lantas bekerja serabutan. Pekerjaan mengemudi taksi hingga sopir truk trailer ia jalani demi menutupi kebutuhan hidup keluarganya.

Tanggal 8 November 2017, Agus mendaftar sebagai pengemudi Grab di Surabaya. Baru berjalan 9 hari kerja, tiba-tiba dia menerima pesan WhatstApp dari nomor kantor induk. Isinya, "Anda mendapat panggilan ke Baitullah".

Semula sempat ragu terhadap kebenaran isi pesan tersebut. Agus merasa mantab setelah pada 8 Januari 2018 memperoleh pesan susulan dari nomor yang sama dengan tulisan: "SELAMAT Anda terpilih untuk #GrabUmrah.

Rezeki sering kali datang tanpa diduga. Agus Yulianto mengucapkan syukur. Di balik cobaan hidup yang dialami, ternyata ada berkah dan hikmah. 10 Maret 2018 Agus berangkat Umrah lewat Jakarta, bersama 10 rekan-rekannya yang terpilih. Seluruh biaya ditanggung oleh Grab, perusahaan tempat dia bekerja.

Rezeki halal
Kisah ojek online berlanjut, sampai kemudian saya bertemu pengemudi Go-Jek, pada Malam Minggu lalu (Sabtu, 1/12/2018). Vedi Irawan, bertampang ramah, usianya menginjak 27 tahun. Malam itu, baru pertama kali Vedi menyandang predikat sebagai "tukang ojek". Bahkan, saya orang kedua yang dia antar.

Seperti pengemudi ojek online pada umumnya, Vedi sudah mempunyai pekerjaan tetap. Dia karyawan bagian dapur di Rumah Sakit Husada Utama, Surabaya. Tugasnya cukup mulia. Menyediakan menu masakan untuk keperluan makan ratusan pasien. Vedi menakar semua kebutuhan gizi sesuai kondisi penderita. Lulusan SMK Perhotelan Satya Widya ini sedikit pun tidak boleh keliru. Sekali lengah dalam penyajian bisa berakibat fatal pada kesembuhan pasien.

Vedi Irawan mengaku sangat bersemangat meraih rezeki -yang menurut dia, halal untuk dinikmati bersama keluarganya. Dinikmati bersama keluarga? Ya, selain sudah membina rumah tangga, Vedi juga ikut menanggung kebutuhan orangtuanya. Vedi bersama istrinya menempati rumah kos di Ketintang, sedangkan ibu dan bapaknya tinggal di daerah Ampel Surabaya.
Agus Yulianto mendapat rezeki Umrah gratis (Dok Pribadi)
Dua kakaknya sudah tidak lagi tinggal bersama orangtua, sementara dua adiknya masih menempuh pendidikan dan hidup bersama orangtua. "Alhamdulillah, satu adik saya kuliah gratisan," kata Verdi. Adiknya diterima sebagai mahasiswa setelah mengikuti program Bidikmisi. 

Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi. Peserta Bidikmisi harus memiliki potensi akademik pda program studi unggulan sampai lulus tepat waktu.
***

Pradoto, seorang teman bertempat tinggal di Taman Indah Menanggal Surabaya. Rumahnya berdekatan dengan SMA 15, sehingga hampir setiap hari berjumpa pengemudi ojek online. Sebagai sarana antar jemput sekolah, Pradoto melihat sendiri betapa tinggi “kesetiaan” mereka melayani pelanggannya.

“Orang tua percaya kepada pengemudi ojek online. Jangan ada lagi yang mencemooh meremehkan ojek online. Mereka sangat membantu kesulitan kita. Mereka juga bekerja untuk mendapat rejeki halal,” kata Pradoto.

Masuk akal apabila terkagum-kagum kepada sederet pengemudi ojek online yang pernah mengantarkan saya. Mereka yang sudah meluangkan waktu berbagi cerita selalu punya tujuan baik. Ingin menambah penghasilan. Berbuat baik demi keluarga.

Menjadi juara bukan hanya pemenang lomba, melainkan juga setiap orang yang mampu menaklukkan pergulatan hidup.

Mungkin saat ini Anda masih mengaspal di jalan raya. Kepanasan atau kedinginan karena hujan. Cara Anda menyajikan kebaikan untuk penumpang atau kepada keluarga, tanpa ada tanda-tanda untuk berhenti.

Isu ini perlu diangkat. Dengan cara sederhana, Anda -para pengemudi ojek online, telah menularkan virus kebaikan.
Foto Dok Pribadi
Tidak banyak orang-orang dengan kemampuan terbatas berani terjun berusaha. Apalagi bagi seorang anak yang terbilang memasuki fase remaja. Namun tidak demikian bagi Amelia (29). Perempuan ini pukul 06.00 Wib sudah harus keluar rumah, menenteng barang dagangan mendatangi rumah-rumah langganannya.

"Permisiiiii...." adalah kalimat pembuka setiap kali datang di hari Selasa. Saya senantiasa hafal sebab kehadiran Amelia sudah berjalan hampir tujuh tahun.

Foto Dok Pribadi

Selebihnya, dia buka keranjang bawaannya untuk kemudian satu demi satu dikeluarkan macam-macam makanan dalam kemasan plastik.

Dari rumahnya di Wiguna, wilayah timur Surabaya, menyusuri jalan adalah perjuangan hidupnya. Setidaknya usaha yang dilakoni sejak sembilan tahun silam itu tidak lah sia-sia. Amelia ikut menopang keuangan keluarganya.

Beberapa waktu lalu, dalam perbincangan dia mengaku kakaknya sudah berkerja di Banyuwangi, sedang adiknya bekerja di sebuah komplek pertokoan Surabaya.

Dia bercerita, dagangan yang dibawa itu merupakan titipan tetangga rumah. Ada keripik singkong, keripik pisang, dan aneka jajanan ringan dengan berat rata-rata 250 gram.
Amelia berkisah, dalam sehari rata-rata punya penghasilan bersih Rp 20 ribu. Hal ini tentu bisa dimaklumi karena dia harus berbagi keuntungan dengan tetangganya sang pemilik dagangan.
Doc Pribadi
Saya enggan bertanya berapa jauh dia berjalan setiap hari. Karena suatu saat saya pernah dapati Amelia berjalan kaki di sekitar Kawasan Surabaya Industri Rungkut.

Terkadang saya melihat dia masuk-keluar di perumahan YKP dan perumahan-perumahan lainnya. Sekalipun demikian dia sudah dipesan oleh kedua orangtuanya, siang hari harus balik pulang.

Dengan kemampuan berkomunikasi terbatas (maaf, bicaranya terbata-bata) lulusan Sekolah Luar Biasa~SLB Kalibokor ini toh selalu tegar. Amelia tidak pernah merasa minder.

Amelia menapaki hidup dan kehidupannya penuh selalu optimis. Sukses menurut dia,  senantiasa ada batasnya juga. Tetapi dalam segala keterbatasan sukses layak disyukuri.

"Sekarang jamane soro (Jawa, hidup susah), enak masih di SLB" kata Amelia bercanda.....

Suara Amelia sering "nyangkut" di tenggorokan, cadel berampur pelat. Tentu saja membikin hati ini semakin trenyuh. Lalu satu lagi kalimat yang dia keluarkan apabila saya atau istri saya hendak menutup pagar setelah membeli sesuatu darinya.
"Terima kasih. Tuhan memberkati."
Saya hampir pasti menjawabnya dengan ucapan sebaliknya, "Ya, sama-sama.." .

Saya tidak pernah ambil pusing, kira-kira Amelia ini berdoa atau memang demikian ajaran, yang dari siapa saya juga tak pernah peduli.

Ya, sudahlah.... keterbatasanmu, ya suksesmu. Saya suka kamu karena setiap difoto penampilanmu selalu ciamik!
Cirebon Festival 2016 ditutup oleh Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra.
(Foto-Herru Soleh)

Masyarakat di Kabupaten Cirebon antusias menyambut pagelaran “The Caruban Carnival” sebagai puncak dari Cirebon Festival 2016 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon, Minggu (22 Mei 2016). Acara bertemakan Imagine of Mask itu menonjolkan salah satu seni budaya lokal, yakni kerajinan topeng.

Sepanjang Jalan Tuparev sebagai jalan protokol di Kota Cirebon sejak pukul 09.00 ditutup total dari semua arah. Di tengah jalan dibangun panggung utama tempat sekitar 200 peserta memeragakan kirab budaya. Arak-arakan festival itu sendiri baru dimulai pukul 14.00 siang dan dibuka secara langsung oleh Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra.

“Cirebon Festival 2016” mengikut sertakan komunitas Jember Fashion Carnaval dan komunitas Solo Batik Carnival. Panitia juga mengajak pelaku bisnis perjalanan wisata, baik travel biro dalam negeri maupun negara-negara ASEAN. Beberapa daerah kabupaten dan kota di  Indonesia pun dilibatkan. Bahkan menjelang ujung acara muncul penyanti kenamaan Dewi Persik turut menghibur penonton.

Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra saat mengadakan gala dinner bagi para peserta di Pendopo Kabupaten, Sabtu malam ( 21/5) berani mengklaim, bahwa Cirebon Festival merupakan ikon pariwisata terbesar di Jawa Barat.


“Kabupaten Cirebon menjadi daerah pertama di Jabar yang mengadakan festival karnaval terbesar dan rutin diadakan setiap tahun. Tujuannya jelas, mempromosikan wisata secara nasional, termasuk mendorong ke tingkat dunia.” ujar Sunjaya penuh semangat.

Artis Dewi Persik tampil menghibur penonton (Foto-Herru Soleh)


*     kompasiana.com/arifinbeha     *
Premier Film Jack (Kamis, 2/5/2019) dihadiri sejumlah tokoh. Termasuk KH. Abdul Azis Munif -keempat dari kiri, pengasuh Ponpes Bahrul Hidayah (Smekdor's)
Suatu sore di tengah keramaian lalu lintas Jalan Tunjungan Surabaya. Dua orang remaja mengendarai sepeda motor kuno. Honda C 70 tahun 1970-an yang pada zamannya populer dengan sebutan motor "Ulung".

Ketika sedang asyik bercengkerama, ban belakang sepeda motor tiba-tiba gembos (Jawa: kehabisan angin karena bocor). Sang cowok, biasa dipanggil Jack turun. Begitu pula sang cewek, Meyling turun dari boncengan. Mereka menepi. Berjalan sambil menuntun sepeda motor untuk mencari tukang tambal ban.

Inilah sepenggal kisah -dari puluhan kisah, yang terangkai sangat indah. Sosok Jack, diperankan oleh Arief Wibhisono dan Meyling yang diperankan oleh Grace Tie merupakan tokoh sentral. Pemeran utama yang membingkai film JACK.

Jack seorang pria berdarah Arab. Ia terancam drop out alias DO akibat belum menyelesaikan skripsi akhir. Meyling perempuan keturunan Tionghoa, anak dari juragan toko obat Cina di bilangan Jl. Jagalan, Surabaya.

Cerita bergulir. Jack, semula pendiam. Bahkan terkesan malas-malasan. Semenjak berkenalan dengan Meyling mendadak menjadi riang. Hidupnya bergairah. Jack sering tampil berduaan. Tak hanya bersahabat. Mereka, bagaikan pasangan yang sedang dilanda asmara.

Dalam sebuah adegan, Raut wajah Jack mendadak kaget. Ketika Meyling berkata: "Pokoknya aku nggak mau ketemu kamu lagi, kalau kamu gak lulus kuliah!". Seketika itu pula Jack menyusun skripsi. Siang dan malam. Dia mendadak rajin.

Hubungan Jack-Meyling mulai tercium banyak pihak. Keluarga Meyling, terutama Maminya -diperankan Metty Endel mulai geregetan. Setiap Mami sembahyang di klenteng, Jack datang menjemput Meyling. Ia sering mencuri lihat Meyling duduk membonceng sepeda motor. Tangannya menyilang di pinggang Jack. Layaknya anak muda pacaran.

Dolah, ayah Jack -diperankan oleh Eko Tralala tentu sangat emosional. Dolah tak akan rela, jika satu-satunya anak lelakinya harus menikahi Meyling. Gadis non Muslim. Hubungan Jack-Meyling harus dicegah. Tapi dengan cara bagaimana? Melalui jalur apa?

Dengan tergopoh-gopoh, Dolah mendatangi Pak RT (M. Chengho Djadi Galajapo). Di antara rasa galau, Dolah curhat. Minta nasehat. Keluarga Dolah memiliki trah Muslim yang fanatik. Sementara Meyling keluarga yang sehari-harinya hidup di lingkungan Klenteng.

"Jack harus beristrikan orang Islam. Atau setidaknya menjadi Islam" ujar Dolah kepada Pak RT.

"Wong Nabi ae gak isok ngislamno pamane, opo maneh peno. Peno ngono iku sopo? (Jawa: Nabi Muhammad saja gak bisa meng-Islamkan pamannya -Abu Thalib, apalagi Anda. Lha, Anda ini siapa)" jawab Pak RT.

Potongan dialog ini cukup menggambarkan. Seperti apa "kolotnya" masyarakat dalam beragama. Perbedaan agama bukan dipandang sebagai suatu hal yang baik. Dalam menghadapi perbedaan agama masih terbiasa mengedepankan prasangka.

Perbedaan keyakinan ini oleh Sutradara film JACK, M Ainun Ridho dikemas apik. Ridho berhasil mengungkapkan tema dasar dalam ide film ini. Tentang problem toleransi!
M Ainun Ridho -kaca mata, Sutradara Film | Koleksi pribadi
Apabila film itu ibarat sebuah sajian kuliner, M Ainun Ridho adalah tukang masak yang lihai. Ia pandai memadukan segala macam bumbu. Menjadi narasi cerita yang sempurna. Lewat film JACK, ia sukses mendobrak sekat-sekat tradisi.

Satu lagi. M Ainun Ridho berhasil menyakinkan. Surabaya memiliki kekayaan. Segala macam suku, etnis, dan agama ada di Surabaya. Sikap toleransi warganya, kata Ridho, menjadi contoh besar toleransi di Indonesia.

"Film JACK secara lengkap menonjolkan Surabaya. Saya berani klaim ini yang pertama. Ke depan pasti banyak yang tertarik untuk mengambil film dengan latar Suroboyoan,"ujarnya.

Peran besar Smekdor's
Setelah diputar terbatas hanya di Layar Jaringan XXI Ciputra World Surabaya, film JACK akan dirilis secara nasional pada Kamis (16/5/2019).

Film JACK Suroboyo banget. Sangat kental dengan karakter Suroboyoan. Mulai dari kru. Bintang filmnya. Termasuk bahasa dan dialog yang digunakan. Gaya khas Arek Suroboyo.
Pemeran utama Film | Koleksi pribadi
Pemilihan lokasi menonjolkan aspek Surabaya terbilang penting. Setidaknya menjadi pembanding bagi dunia perfilman yang terbiasa diproduksi di Jakarta.

"Meski menggunakan dialog khas Surabaya, penonton cukup hepi. Karena sudah dilengkapi teks bahasa Indonesia" ungkap Juliantono Hadi, Excecutive Producer 2 Film JACK.

Juliantono Hadi boleh berbangga diri. Mengapa? Inti kru film JACK, merupakan siswa kelas 1 dan kelas 2 SMK Dr. Soetomo yang mempunyai jurusan Perfilman dan Multimedia.

"Kru yang mengerjakan film ini 90 persen juga diambil dari anak-anak muda Surabaya. Khususnya siswa SMK Dr Soetomo yang mendukung penuh produksi film ini," tutur Juliantono yang juga Kepala SMK Dr. Soetomo Surabaya.

Menurut dia, kesempatan besar Smekdor's -nama beken SMK Dr. Soetomo, diharapkan bisa mengatrol semangat sekolah kejuruan serupa di Tanah Air. Indonesia sangat potensial. Film domestik bisa berkembang lewat kultur yang kuat dengan bahasa lokal.

Juliantono Hadi tentu sangat bahagia. Siapa saja yang bisa menembus zaman, dialah yang dapat menemukan dirinya. Menjadi berdaya. Menjadi pangkal segalanya.

Film JACK, dari Surabaya untuk Indonesia.
Postingan Lama Beranda

Postingan Populer

  • Sunda Kiwari TV, Wajah Baru Sapa Langit Biru
    (Foto: Herru Soleh) Launching Brand Baru SKTV stasiun TV lokal pertama di Kota Bandung. Hari Jumat (8/9/2017) malam langit biru Kota Bandung...
  • Dampak Industri terparah, Akibat Corona
    Di tengah virus corona (Covid-19) yang semakin menyebar ini, ada beberapa sektor industri yang terdampak oleh wabah tersebut. Bagaimana tida...
  • Mengapa Perlu Pasar Bebas?
    IAF Seminar "Promoting Entrepreneurship and Open Markets", 12 - 24 Agustus 2018 Message 04.10.2018 Nurkholisoh Ibnu Aman* Pesert...
  • Butuh Stamina Luar Biasa
    Dome of The Rock atau Kubah Mas salah satu masjid di Al Aqsa sore hari (Foto:ABH) Hawa dingin menusuk tulang. Suhu udara berada pada kisara...

Categories

Analisis 1 Berita 4 Cerpen 1 Ekonomi 4 Euforia 2 Gaya hidup 6 Humaniora 17 iTekno 1 Jalan Sore 5 Khazanah 5 Lite News 3 Manaya TV 1 Nusantara 31 Palestina 4 Sosok 9 Turki 2 Umroh & Haji 7 Umum 1

Follow Us

ABOUT AUTHOR

Ngarit rumput hidayah di lapangan perjuangan Arrisalah. Sesekali chekout ke beberapa tempat yang bikin penasaran untuk nambah ilmu. Duh Gusti! Nyuwun Husnu-l-Khatimah!. ;)

Album Flicker

About Me

Advertisement

Copyright © 2016 Majelis Hasbunallah Indonesia. Created by OddThemes